Selamat Jalan Pak Sapardi

Spread the love

Pak Sapardi meninggal. Beliau adalah salah satu orang berjasa, yang mengajarakan kepada saya, tentang apa itu cinta, lewat puisinya, Aku Ingin.

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana; dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”

Itu indah dan megah sekali. Jika kamu mencintai, kamu tidak perlu pengakuan darinya. Bagimu, yang penting adalah yang kamu cintai baik, maka itu sudah cukup. Perkara dirimu kenapa-kenapa, tidaklah perlu ia tau.

Sesungguhnya, setiap mahluk itu cinta pertamanya dan yang paling dicintainya adalah dirinya sendiri. Jika dia mencintai sesuatu, tidaklah pernah lebih dari cintanya pada dirinya, karena mencintai dirinya sendiri adalah bagian dari kesuksesannya untuk bertahan hidup, untuk survive. Maka, jika dia bisa mencintai lebih dari cintanya pada dirinya sendiri, itulah semegah-megahnya cinta.

Mayoritas generasi yang hidup di zaman now, melepehkan cinta seperti ini dengan menyematkan predikat bucin. Ini karena good times create weak human. Itulah penyebab pikiran mereka seperti ini. Mereka cuma kurang berpikir, karena ya itu, tidak terlatih untuk biasa mikir.

Padahal, Indonesia bisa merdeka itu karena orang-orang yang cintanya semegah itu pada negeri ini. Dan kalau sama negeri saja, yang notabene bukan manusia kemudian cinta semegah itu bisa ada, tentulah sesama manusiapun bisa.

Bucin tidak buruk, itu adalah bentuk final dari ketulusan. Kebanyakan dari mereka hanya tidak sengaja terjebak untuk mencintai orang yang bejat. Karena ya itu, kehidupan yang serba mudah menciptakan banyak manusia bermental sampah.

Selamat jalan, pak Sapardi Djoko Damono. Terima kasih banyak, pak. Sungguh, terima kasih.

Leave A Comment