Tentang Mardigu Wowiek Prasantyo, Sang Bossman Sontoloyo

Spread the love

Saya pertama kali mendengar Pak Mardigu Wowiek Prasantyo dari teman saya, saat bertelepon dengannya beberapa hari yang lalu. Selang sehari kemudian, ada yang mengirimi video podcastnya dengan om Deddy Corbuzier, dan setelah saya menonton banyak videonya di Youtube, ada bagian yang menurut saya sangat lucu, sehingga saya rekam dan jadikan story di social media. Story ini kemudian direply oleh teman saya yang menanyakan, gimana pendapat saya tentang Pak Mardigu.

Saya sempat iseng menanyakan informasi pajak pria berusia 54 tahun ini ke beberapa rekan tapi ga dapat. Ya sudah.

Jadi, saya tidak akan menilai Pak Mardigu dari sisi masa lalunya yang praktisi Hypnosis dan NLP. Dua ilmu ini belum terbukti secara sains, meskipun memang Pak Mardigu pernah menggunakannya untuk nyemplung urusan kepolisian terkait tindak teroris tahun 2010-2011 lalu. Tidaklah adil jika saya menilai seseorang hanya karena dia Hypno atau NLP. Soalnya, manusia itu kompleks. Seseorang bisa saja ‘nggak banget’ di sebuah bidang yang digelutinya, tapi itu tidak berarti bahwa semua ucapannya otomatis palsu.

Teman saya ada yang jago banget trading, bahkan sampai ikut lomba dan dapat hadiah mobil, punya masa lalu di sulap. Salah seorang milyader kenalan saya masih percaya sesajen, tapi ilmu ekonominya paten. Banyak orang beragama dan apa yang dikatakannya benar, padahal agama itu sering clash dengan sains. Jadi, saya fokus menilainya, dari apa yang menjadi ‘barang’nya sekarang.

Yang membuat Pak Mardigu naik daun adalah video pandangannya yang banyak beredar di Youtube. Isinya video-video yang sangat disederhanakan, bahkan terkesan penyederhanaanya berlebihan, terhadap masalah-masalah negara. Semuanya jadi terlihat gampang, di sana. Beberapa videonya ada bumbu konspirasi wahyudi juga. Di akhir video, kadang muncul pertanyaan retroika, atau digantungkan. Video-videonya dikemas dengan pace kalimat yang cepat, sehingga cenderung membuat ketanam di pikiran dulu, sebelum sempat teranalisa. Ini metode yang oke untuk membuat sebuah ide tertanam di otak. Pak Mardigu memang mumpuni di bidang psikologi.

Inilah yang menyebabkan pemirsa medianya bisa naik drastis.

Video-videonya cukup netral, menurut saya. Ada beberapa yang benar banget, ada yang bagi saya salah total. Video-videonya cenderung bahkan bernarasi mendukung pemerintah, ‘berjalan berbarengan, pakailah ide saya’. Kira-kira seperti itu. Hanya saja, karena isi videonya ada konspirasi serta endingnya menyindir pemerintah, massa kontra pemerintah bisa digaetnya dengan mudah.

Terkait bisa tidaknya solusi yang digemakan oleh Pak Mardigu di video-videonya, apakah bisa menjadi solusi bagi Indonesia jika diterapkan, saya akan dengan tegas menjawab tidak bisa. Kenapa?

Solusi-solusi itu tidak akan dapat diimplementasikan di Indonesia selama rakyatnya kayak gini. Masalah utama orang Indonesia itu bukan pejabatnya, tapi rakyatnya.

Contohnya, kalau kamu lihat di komen-komen videonya, mayoritas yang komen itu ingin dia jadi presiden. Padahal, dia udah jelas bilang kalau dia ga pengen nyemplung di politik. Tujuan dia menciptakan basis pengetahuan, agar rakyat jadi pintar, dan pejabat juga bisa belajar. Terlepas dia bohong atau tidak fokuslah di kelakuan komen mayoritas tersebut.

Orang-orang yang diajak pinter bareng buat kerja bareng, either ga ngerti, atau milih jalur lain. “Jadikan saja si Mardigu itu presiden, biar dia yang urus.” Demikian pikir mereka. Itu menandakan, rakyat Indonesia itu malas bekerja sendiri, malas mandiri. Selama kayak gitu, solusi apapun bakal mental.

Selama rakyatnya demikian, goblok dan malas mandiri, maka mayoritas pejabatnya akan demikian. Kenapa, karena yang jadi pejabat itu dari rakyat.

Rakyat indonesia itu menciptakan sendiri masalahnya. Cepet nikah padahal rumah sendiri belum punya, kadang masih utang. Punya anak, padahal duit tabungan untuk jadi pemasukan membesarkan anak belum ada. Menyerahkan semuanya ke Allah, tetaplah akan datang rejeki dari Tuhan. Itulah mental malas mandiri dan tanpa perencanaan.

Kemudian, rakyat negeri ini suka membully. Karena berseberangan pola pikirnya, mereka yang tidak malas mandiri diejek untuk cepat nikah, cepat punya anak, dan semacamnya. Biar sama-sama sengsara, nggak sengsara sendirian, begitu mental mayoritas orang Indonesia.

Padahal semua solusi yang digadang-gadang pak Mardigu itu butuh perencanaan dan kerjasama yang terpadu, serta acap kali rela berkorban. So, no. Those plans won’t work. Jangankan presiden dan pejabatnya yang kudu kursus di Lemhanas. Satu negeri ini yang perlu.

Oh iya, waktu dia jadi walikota Solo, pak Jokowi udah ikut pelatihan Lemhanas. Jadi, jangan dibilang presiden ga pernah.

Bagi saya, video-video darinya saat ini masuk dalam playlist hiburan. Dan tentu saja, jika saya salah tentang pendapat saya di atas, sayalah orang yang paling berbahagia di muka bumi. Sungguh!

Lalu untuk apa video-video tersebut selain dari mencoba mengedukasi masyarakat? Dari video-videonya, ada 2 produk ‘jualannya’. Pelatihan, dalam bentuk buku, seminar, dan semacamnya. Kedua, kerja sama, dalam bentuk beberapa web application dan mobile application. Intinya aplikasi-aplikasi ini, model bisnisnya, adalah pendanaan UKM. Semacam bursa efek, tapi untuk UKM. Ini bukan hal baru, secara Koinworks sudah bertahun-tahun melakukannya.

Tapi, jika massa kontra-pemerintah mau menggunakan aplikasi-aplikasi tersebut, itu berarti ada pasarnya. Kalau pasarnya ada, ekonomi gerak. Ini lebih mudah dipercaya bisa terjadi, ketimbang solusi di videonya bisa dilakukan.

Ingat, yang kontra-pemerintah ini banyak.

So? Saya juga akan ikut. Selama ada perputaran duit, saya ikut. Toh yang kontra pemerintah ini mayoritas pasti nggak kenal Koinworks. Lewat seorang Mardigu Wowiek Prasantyo, mereka dikenalkan, dan kalau bisa jadi pelaku ekonomi, itu hal yang baik. Yang penting skemanya cengli aja. Cengli buat saya, tentunya.

5 thoughts on “Tentang Mardigu Wowiek Prasantyo, Sang Bossman Sontoloyo

  1. morishige

    Saya baru dengar nama Bossman beberapa waktu lalu dari kawan. Penasaran, saya coba cari di YouTube. Ketemu yang video wawancara sama Helmy Yahya. Pas lihat suggested video, saya baru ngeh kalau ternyata jualan. Hehehe.

    1. Black_Claw

      Kadang diselip-selipin di video-videonya yang lain. Tapi, ide aplikasi-aplikasinya boleh juga. Kalau misalnya pasarnya terbentuk dan lancar, akan sangat menarik. Seandainya saja dia tidak jualan pelatihan dan buku, atau malah menggratiskan full itu semua, saya yakin akan lebih bagus buat imagenya.

      Minimal ga bakal dikatain penjual ludah atau salesman.

      1. morishige

        Hahaha… Iya, jualannya itu yang bikin gubrak. Cuma kayaknya sudah susah buat jualan secara subtil sekarang. Semua aib kayaknya dikeluarin supaya tenar. 😀

        1. Black_Claw

          Mungkin itu cara yang betul. Saat punya power mempengaruhi orang, bisa jadi kita bisa menciptakan lebih banyak kebaikan. Yang penting terkenal dulu.

          1. morishige

            Modus banget itu sekarang…. 😀

Leave A Comment