Sebuah Cerita Ditengah Ramadhan Bercorona

Spread the love

Air galon habis, dan sudah sejak PSBB di daerah sini ga bisa pesan via aplikasi Alfagift. Barang habis terus, tulisannya. Jadi, pergilah saya membeli air galon. Jalan kaki. Beli sendiri, angkut sendiri, dasar sobat misqueen…

Di tengah jalan, sekonyong-konyong ada orang gila. Saya pertamanya ga tau dia gila, soalnya bajunya cukup normal dan pake masker. Mendadak dia nurunin resleting, nongolin burungnya, kemudian pipis di depan saya. Iya, dia pipis, di pinggir trotoar jalan umum, diliatin abang-abang ojol yang mangkal di depan tukang cendol keliling. Pada buka puasa.

Karena pipisnya itu asli menjijikkan, langsung dong, saya kekuarkan kungfu menghindar Sembilan Langkah Penepis Bayangan Mantan.

Berkelitlah saya sambil gendong galon, yang kalau aja di-slow-motion-in pasti epic banget, level-levelnya film Crouching Tiger Hidden Dragon gitu lah. Si orang gila? Masih dengan santai dan tanpa beban melanjutkan pipisnya.

Eniwei, saya yang menghindari pipis, berhasil mendarat sempurna di sisi sebelahnya, deket aspal, sengep ngos-ngosan karena pake masker, diiringi tepuk tangan orang-orang yang lewat, abang-abang ojol, dan tukang cendol keliling. Senyum dong sayanya.

Terus mendadak ujan langsung turun dengan derasnya. Tepuk tangan mereda, berganti orang yang berlarian pergi ke tempat berteduh. Tempat-tempat berteduh yang sempit dan kecil itu, emperan ruko orang, langsung penuh tanpa sisa. Basah lah saya. Jiwa saya otomatis berteriak.

“Ore waaa sekai ni ichiban no binbou otoko daaa!”

Leave A Comment