Paskah 2014

Spread the love

Kalau paskah datang, saya selalu teringat dengan seorang Romo yang pernah ditugaskan di gereja dekat rumah saya. Romo Barto, biasa kami panggil. Mungkin kependekan dari Bartholomeus. Saya tidak pernah tau. Saya pernah bertanya kepada beliau, nama panjang beliau apa. Dengan santai dia menjawab: “Barto, barani to?”

Romo Barto berambut ikal dipotong cepak, tingginya sedang, berbadan atletis. Kedua tangannya coklat tua akibat terbakar sinar matahari kekar berotot. Alisnya tebal, dan sorot matanya tajam tapi kedua bibirnya selalu membentuk senyum, walaupun dia sedang berekspresi datar. Beliau berasal dari Timor Timur, yang sekarang, setelah merdeka menjadi Timor Leste. Ya, Romo Barto memilih ikut dengan Republik Indonesia. Kalau berbicara dengan saya, masih terselip dialek Timor di bibirnya. Romo Barto yang membuat saya suka mendengar dialek tersebut, dialek dari rumpun Mollucan Malay yang beranak pinak menjadi dialek Timor, Ambon, Manado, Papua, dan semua daerah di timur Indonesia.

Romo Barto orangnya baik dan membaur. Dia sering berjalan-jalan ke rumah penduduk sekitar, membawakan beraneka buah-buahan yang tumbuh di halaman Gereja sebagai oleh-oleh. Hanya untuk duduk berbincang-bincang dengan pemilik rumah tentang segala hal, misalnya musim tanam, musim ikan, atau harga sayur mayur di pasar. Yang terakhir itu kalau istri yang punya rumah ikut nyambut. Hanya itu. Dia tidak mengabarkan Injil atau sesuatu yang digembar-gemborkan lebay macam pemurtadan di koran-koran. Pendeta yang aneh, pikir saya waktu itu. Saya pernah bertanya tentang itu kepadanya. Ia menjawab: “Injil itu buat Romo kebaikan. Romo bilang sama orang harga beras su turun, itu kebaikan.”

Itu yang membuat Romo Barto disayang banget sama orang-orang satu kampung, yang mayoritas beda agama sama dia. Pernah suatu ketika, karena provokasi dari pihak yang entahlah, saya tidak tahu, sekumpulan orang mabuk datang membakar gereja. Wak Haji Munir, yang kebun dan rumahnya dipisahkan hanya oleh sungai kecil dengan gereja, langsung mengumpulkan pasukan anak muda, dan berangkat siap tempur untuk “menyelamatkan” Romo. Tapi apa, begitu mereka sampai di gereja, mereka mendapati Romo sedang berdiri sante dengan kemeja dan masih sarungan, nonton atap gereja yang terbakar indah di samping orang-orang mabuk yang melempari atap dengan bom molotov.

Dengan sigap, Romo Barto “diselamatkan” dan ditanyai. “Itu kenapa dibiarin aja, Romo? Lagian kok berdiri saja begitu, bahaya kan, bisa dibunuh!”
Romo Barto menjawab santai, “Saya tidak kenal dia orang, bukan dari sini berarti. Tapi biasa kalau lagi marah to? Nanti kalau amarah reda pasti damai. Cuma gereja to, yang penting tidak ada korban jiwa.”

“Tapi mereka itu mabuk!”

“Oh? Pantas pas saya su keluar juga, mereka tidak kenal saya…”

Tapi Wak Haji yang tidak terima bahwa masalah bakar-bakaran ini cuma masalah kenal atau nggak kenal langsung menelepon polisi, dan sekumpulan orang yang mabuk bakar-bakaran itu diangkut ke polres.

Oh, saya jadi lupa menjelaskan kaitan paskah dengan ingatan saya tentang Romo Barto. Dulu, sekali waktu, saat saya masih kecil, Romo datang ke rumah, membawakan oleh-oleh Mangga sekardus Indomie. Beliau kemudian duduk ngobrol di beranda dengan saya dan bapak saya. Romo saat itu, yang masih baru bertugas di gereja tersebut, menanyakan di mana dia bisa menyewa terop untuk acara Paskah minggu depannya. Bapak saya kemudian merekomendasikan salah seorang kenalannya. Romo mencatatnya, kemudian berkata:

“Han, ko tau telur sama kelinci paskah kah?” Tentu saya tahu, dan saya mengangguk.

“Itu adatnya mereka eropa sana. Tidak manly. Kitorang beda. Su tau ko cara Romo pu kampung kalo paskah?” Sambung Romo Barto sambil melirik tajam ke arah saya. Saya menggeleng. Dengan muka serius dia melanjutkan, “Pake telur Komodo sama Komodonya.”

Karena waktu itu masih kecil dan nggak tau dunia, saya langsung terpesona. Saya langsung membayangkan Romo yang masih kecil bersama kawan-kawan seusianya berlari-lari kecil sambil bernyanyi dan tertawa-tawa, membawa telur Komodo sambil dikejar Komodo. Sungguh lelaki sejati penduduk kampungnya Romo…

Leave A Comment