One Milk

Spread the love

Keluarga dari ibu saya tersebar di banyak daerah bahkan negara. Kemarin, sepupu ibu saya dari nenek datang berkunjung ke Indonesia. Paman ini pilot, menikah dengan orang Arab, dan sekarang tinggal di Dubai.

Oleh ibu saya, saya diperintahkan untuk menemuinya, sebagai perwakilan keluarga dari pihak nenek saya. Menyambung tali silaturahmi, titahnya. Jadi, setelah menjelaskan hubungan kekerabatan saya, garis keturunan saya, kepadanya, kami akhirnya bertemu. Pergilah saya siang itu, menemuinya di rumah paman tertua dari pihak buyut saya.

Paman saya ini bukan kelahiran sini, jadi dia sama sekali nggak ngerti bahasa Indonesia. Saya juga nggak ngerti bahasa Arab. Jadi, saya berkomunikasi dengannya menggunakan bahasa Inggris.

Sesampainya di sana, saya diperkenalkan dengan anak-anaknya. Misan-misan saya. Sempat iri dengan mereka, hidungnya mancung-mancung, matanya belo. Oh iya, ada satu yang matanya rada kehijauan.

Selain keluarga paman ini, juga turut keluarga-keluarga yang lain. Tentunya yang memang tinggal di Indonesia. Nah, satu-satunya yang bisa berbahasa Arab adalah istri paman ibu saya, tantenya om saya ini, nenek luar saya.

Paman ibu saya memang menikah dengan keturunan Arab. Jadi, nenek luar saya ini masih bisa bahasa Arab dan lancar dipake komunikasi lah, walaupun banyak lupanya. Maklum sudah sepuh.

Di sana, paman misan dan nenek luar berbincang panjang. Keduanya masih membahas urutan silsilah yang panjangnya amit-amit, menghabiskan sekitar 4 lembar kertas.

“Alhadzu nasabi blahblablahblahblah…” yang kemudian disambung dengan “blablablablabla syahih, syukran!” Or samting laik det lah, karena sepanjang pembicaraan keduanya, saya dan keluarga yang lain cuma bisa ngangak.

Tiba-tiba, nenek terdiam. Mencoba mengingat-ingat tapi tidak bisa. “What happened?” Tanya saya ke paman misan. “I don’t get this part.” Jawab paman sepupu sambil menunjuk bagian di kertas.

Nggak guna juga ditunjukin soalnya itu kertas tulisannya arab gundul semua. Mana bisa saya baca. Saya menoleh ke nenek, nenek balas menoleh. “Bahasa Inggrisnya saudara sepersusuan itu apa? Coba kamu jelaskan ke pamanmu. Nenek lupa bahasa Arabnya…” kata beliau.

Saya bingung. Keluarga yang lain juga bingung. Sudah pake gogel trenslet, tapi nggak nemu juga. Saya menelepon teman saya yang paling jago bahasa Inggris, Brian, tapi dia bilang itu istilah. Bahasa Inggrisnya nggak ada yang saklek kalau saudara sepersusuan. Semuanya ribut mencoba menjelaskan tapi nggak kena-kena juga penjelasannya.

Kemudian kakak misan tertua saya, Zacky, angkat bicara. “Tenang, tenang. I got it. Saudara satu susu kan?” Dia kemudian memandang si paman dengan muka jumawa.

“This and this…?” tunjuknya ke nama berhuruf Arab gundul di kertas yang sedari tadi dipermasalahkan. Sambil mengacungkan telunjuk, kakak misan tertua saya itu berkata dengan tegas.

“One milk.”

Leave A Comment