Info Tentang Pariwisata Syariah Di NTB

Spread the love

Menurut saya sebenarnya masalah gunung Rinjani dan pariwisata syariah di NTB nggak perlu dinyinyirin.

Awal tahun lalu, saya pernah ngobrol dengan kawan sesama NTB yang jadi dewan pengurus pusat ASITA. Topik utamanya adalah tidak nyambungnya pembahasan masakan Chicken Kodok antara tukang bakmie sama anggota dewan pengurus. Nah, pembahasan sambilannya adalah tentang pariwisata syariah. Istilahnya tourism yang moslem friendly.

Dari ngobrol-ngobrol sama dia, saya jadi tau kalau target pasar moslem friendly ini besar banget. Destinasi tropisnya dikit, peminat mancanegaranya bejibun. Nah, duitnya gede.

Jadi, kalau di NTB, di Lombok, Sumbawa, Moyo, Sangiang, Gili dan kawan-kawannya make sistem pariwisata syariah, bisa jadi malah nggak perlu saingan sama Bali. Malah bakal jadi pasar destinasi wisata baru. Pundi-pundi cuan Indonesia jadi dua.

Kalau propinsi yang lain nggak mau ngikut kan nggak masalah. Toh kebetulan di NTB itu mayoritas muslim. Lombok aja itu pulau seribu masjid. Pas, kan? 🙂

Moslem friendly itu bukan berarti yang beragama lain kudu ke sana pake jubah, kok. Tenang aja. 😉

Itu untuk sekedar untuk menjamin yang Islam gampang menghindari dosa saat berwisata, gampang solat, gampang makan, dan semacamnya. Di kamar hotel ada Quran, petunjuk kiblat, larangan tegas kamarnya ga boleh dipake buat esek-esek selain pasangan syah, mesjidnya gampang diakses, bersih, airnya kenceng, restorannya jelas punya logo halal, dan semacam itu.

Muslim friendly jargonnya.

Seharusnya dari pembicaraan yang saya tangkap waktu itu sih begitu. 😊

—- TAMBAHAN PENJELASAN YANG SAYA TULIS DI KOMEN —-

Saya yakin bakal cuan, karena saya percaya diri dengan tanah Nusa Tenggara Barat. Destinasi wisata syariah saingannya nggak ada apa-apanya. 🤣

Kalau daerah lain muncul yang mau ngikut2 NTB, di Jawa misalnya, tenang aja. Ndak bakal payu asli. Paling mati sendiri. Ada NU dan Banser juga di Jawa Timur.

Kalau di Lombok juga ada NW. Selama NW belum tertembus, tenang aja.

Dan kalaupun NW tembus, tenang juga. Paling propinsi NTB mati sendiri. Malah jadi contoh yang bagus, namanya aja pilot project, kan?

😉

Tentang Rinjani. Kalau kamu mau mendaki Rinjani, naik aja. Tempat tidur di posnya nanti yang dipisah antar lelaki dan perempuan.

Tour guide dan porternya akan diberi arahan untuk bagaimana menyikapi cewek dari negara-negara muslim, misalnya tidak menyentuh kulitnya secara langsung. Dengan sarung tangan, misalnya.

Kalau bar-bar tidak digusur, tapi ada restrict kalau mabuk ga boleh ke jalan, hanya di tempat itu, sepenuhnya tanggung jawab owner bar, dan yang minum ga boleh yang Islam. Selain itu labelnya jelas, mana yang halal mana yang haram, kemudian tempat untuk berlibur ini dipisahkan mana daerah yang makanan dan minumannya halal, mana yang tidak.

Pantai di lombok juga demikian. Ada pantai yang diperbolehkan dan yang tidak. Paling gampang paling dikapling, misalnya bagian timur buat cewek pull. Kanan cowok pull. Ujung campur.

Intinya ini supaya yang agamanya kebangetan seperti beberapa orang yang komen di post saya ini merasa tidak perlu takut ke pantai.

Yang utama justru fokus pada di deket pantai itu harus ada masjid dan air yang lancar untuk wudhu, kemudian tempat ganti baju yang benar-benar tertutup dan terpisah, serta kejelasan banner mana yang haram mana yang tidak. Masalah membagi pantai dkk itu nomor sekian kok sebenarnya.

Intinya, infra untuk nyokongin hidup muslim-muslim yang rada ribet dan nggak mandiri serta kurang kreatif itu ada, jelas, baik, dan lancar.

Makanya, sebenarnya jargon yang diincer itu muslim friendly. Syariah itu paling yang diwawancara kepleset ngomong, terus akhirnya kegoreng deh.

Gimana? Kira-kira udah jelas? 😁

Tenang aja. Makanya, jargonnya harus diluruskan kembali. Bukan syariah, tapi muslim friendly.

Tentang masalah canang sepanjang jalan ke Tanjung dihancurkan dan perbaikan Pura dihambat, terus terang saya nggak tau. Kalaupun demikian, tenang saja. Cukup blow up aja ke dunia internasional. Itu kan jatuhnya udah provokasi. Hitung-hitung bikin yang mau garap proyek ini jadi mawas diri.

Mungkin jatuhnya ke kamu itu jadi nggak tenang hidupnya, ya? Saya paham kok.

Apalagi kalau kenyataan bahwa, ehem, seantero NTB yang mayoritas muslim itu banyak yang pagah-pagah kan? Seperti si Zulman. 🤣

Gampang Dit. Yang Hindu turut aktif aja di proyek Muslim Friendly ini. Jadi kalian punya pegangan.

Tiru-tiru cara ras mama owe dalam bermanuver di Indonesia ini lah hayyaaa…

Leave A Comment