Untuk Pak Onno

Spread the love

Halo pak Onno. Ini Blek.

Saya ingat, dulu pak Onno pernah menulis, “Saya nggak yakin pada akhirnya akan blokir Facebook. Memangnya berani? Hehehe…”

Tuh kan pak, kemarin keblokir deh…

Tapi pak Onno, gini pak. Saya sempat tidak percaya status protes ga bisa login itu ditulis oleh pak Onno Widodo Purbo. Postingan ini terlalu aneh.

Sempat terpikir bahwa ini becandaan. Tapi bahkan, saat saya mencoba membacanya sebagai sindiran satir juga, saya tidak bisa menemukan titik jokenya.

Pertama, sungguh aneh bahwa pikiran untuk protes terhadap tidak bisa login Grammarly pake facebook terjadi dari orang yang menulis status di facebook.

Kedua, jikapun memang bisa posting di facebook tapi tetap tidak bisa login di Grammarly, layanan cek kesalahan penulisan, tanda baca, dan pembajakan tersebut menerima login via Google.

Ketiga, kalaupun tidak bisa login pakai Facebook dan Google, tetap bisa login dengan akun native Grammarly, akun yang dibuat langsung di layanan tersebut.

Keempat, kalaupun pak Onno hanya dan harus hanya dengan Facebook loginnya, sungguh, saya yakin akan dengan gampang dilakukan oleh pak Onna. Buktinya langsung bisa posting protes status di facebook, bukan?

Kelima, kalau ini adalah kritik terhadap pemerintah seperti yang biasa pak Onno lakukan dulu-dulu, protes karena tidak nyaman nggak bisa login ini sungguh bukan level dan gaya pak Onno karena empat alasan yang sudah saya tulis sebelumnya. Biasanya dan seharusnya, pak Onno menjelaskan kemungkinan-kemungkinan ketidaknyamanan dari sudut pandang umum yang luas beserta alasannya.

Keenam, jika ini adalah sindiran terhadap pemerintah karena mengekang kebebasan berinternet, seperti yang sama-sama diperjuangkan saat pembebasan frekwensi 2.4 Ghz itu, pak, jawabannya seperti nomer lima di atas. Ditambah lagi alasan kalau bapak sebenarnya bisa login facebook. Intinya, seharusnya sindiran dengan gaya seperti ini tidak akan pernah bisa mampir ke pikiran seorang Onno Widodo Purbo. Ia akan menuliskan kesulitan orang-orang yang tidak mengerti internet. Bukan kesulitannya, karena baginya itu seharusnya tidak sulit.

Dalam pandangan banyak orang, blokiran sementara ini rem darurat, pak Onno. Rem darurat perpecahan bangsa yang cuma sementara pake banget. Media sosial diblokir gambarnya. Bahkan para penggiat informatika lain yang protes terhadap blokiran ini, protes dengan memberikan alasan yang lebih nyambung sama kepakaran mereka, pak.

Terlepas dari baiknya diblok atau tidak, pak Onno, banyak masyarakat yang juga memandang ‘it is ok’ jika internet sementara diblok mengingat kerusuhan terjadi dan berpotensi meluas. Orang-orang tersebut banyak saya temukan, pak.

Termasuk yang dagang online, yang mata pencahariannya murni cuma dari apakah gambar dagangan mereka bisa dilihat sama orang atau tidak di sosial media. Banyak juga dari mereka ini yang memandang tidak apa dagangannya nggak laku, ketimbang ntar rusuh mulu.

Sebagai seorang pendidik yang figur publik, pak Onno harus benar-benar lebih memperhatikan narasi, pak. Jangan sampai jumlah yang nggak suka lebih banyak dari mereka yang kesindir. Kalau mereka udah nggak suka, sangat sulit membuat mereka mau dekat pada kita untuk belajar lagi. Makanya, kalau bisa, pendidik yang figur publik itu sedapat mungkin terlihat netral. Supaya apa? Supaya tetap bisa memberikan manfaat dan pengetahuan di kubu manapun.

Kalau kayak sekarang? Kan jadi susah, pak Onno. Coba lihat komentar-komentar di status bapak. Euh… Mohon maaf banget, pak. Kan jadi ga enak.

Saat bapak bertanya siapa yang zalim, maka sungguh, pak. Banyak yang membaca status bapak akan berpikir, cuma satu yang zalim.

Yang menganggap rem darurat perpecahan bernama blokir gambar di facebook itu tidak sebanding dengan ketenangannya menulis paper pake aplikasi check grammar, pak.

Leave A Comment