Untuk Ibu Maharani Sima

Spread the love

Ibu Maharani Sima, terima kasih telah mampir dan menunjukkan saya foto yang menarik sekali. Saya berkali-kali menanyakan ke ibu dari mana ibu dapat fotonya, tapi ibu nggak mau ngasih tau. Ibu malah berurusan dengan Adam dan Hawa asalnya dari Arab.

Ibu Maharani yang bersemangat, saya senang dengan semangat ibu. Semoga ibu juga akan senang dengan pengetahuan yang ingin saya berikan ini. Ada dua ya bu. Yang pertama tentang Adam dan Hawa.

Adam dan Hawa tidak berasal dari Arab, bu.

Saat nabi Adam diciptakan, negeri bernama Arab belum ada. Jangankan Arab, bu. Semua negeri belum ada, soalnya manusia yang ada cuma nabi Adam doang. Menurut semua literatur agama Abrahamik yaitu Yahudi, Kristen, Katolik, Islam sunni dan bahkan Islam Syiah sekalipun, nabi Adam Alaihissalam diciptakan di sebuah taman syurga indah yang sering disebut Eden, bu. Dibikin langsung sama Tuhannya sendiri. Taman itu bukan di Arab, bu. Hanya Tuhan, Malaikat-malaikatNya, dan Iblis yang tau di mana tempat itu berada.

Nabi adam tidak berbangsa Arab juga ya bu. Ciri-ciri fisiknya juga tidak kearab-araban menurut semua agama Abrahamik. Kenapa? Karena manusia mukanya baru terbagi jadi ras-ras setelah banjir bandang di zaman nabi Nuh. Anak nabi Nuh yang bernama Sem menurunkan bangsa-bangsa di Asia, Ham di Afrika, dan Yafet di Eropa. Kalau ga percaya sama saya, ibu boleh tanya ustadz Abdul Somad yang pernah ceramah tentang itu.

Itu kalau dari agama. Pun ibu, kalau kita tanya sama kawan-kawan kita yang doyan sains, nenek moyang manusia yang pertama itu berasal dari Afrika. Afrika bukan negara ya bu, itu benua.

Ibu Maharani lumayan benar kok, kalau bilang tetesannya Adam dan Hawa itu dari Arab. Yang lebih tepatnya, salah satunya adalah Arab. Sisanya tentu dari seluruh penjuru dunia. Secara agama maupun sains, kita semua ya satu nenek moyang. Jadi, nggak cuma di Arab doang tetesannya.

Nah, sekarang yang kedua ya bu. Tentang foto aparat yang dilingkarin, yang ibu tuduh imporan Cina.

Saya sih pertamanya mau bilang dulu ya bu. Gambarnya kurang jelas. Apalagi brightness dan kontrasnya ditinggin banget sampe muka orang-orang itu kayak lampu neon.

Apakah karena di foto rada blur itu mereka terlihat sipit? Kan di tulisan tempat ibu komen nunjukin foto tersebut, saya malah nyinggung kalau Indonesia itu mayoritas Melayu Mongoloid, bu. Sipit, kulit kuning, itu wajar di Indonesia. Tapi tajam juga ya matanya Ibu, dengan tingkat blur yang segitu bisa langsung tau kalau yang dilingkari itu adalah Cungkuok impor.

Saya aja setengah mati, bu. Liat mereka dari kesatuan apa. Yang bisa saya patokin sih cuma baretnya hijau, terus emblemnya merah ada silangnya. Kayak lambang Yudha Wastu Pramuka deh.

Kalau benar itu lambangnya, sepertinya bapak-bapak kita ini dari kesatuan Infanteri, pasukan pejalan kaki bersenjata ringan yang dilatih untuk melakukan serangan jarak dekat. Mereka harus punya kemampuan bertarung, menembak, dan bertempur di segala kondisi.

Ibu tau nggak, kenapa saya panas dan berkali-kali nanya, ibu dapat gambarnya di mana?

Gini bu.

Ibu tau nggak kalau kesatuan Infantri yang saya ceritain tadi itu bukan Polisi? Mereka itu TNI bu. Tentara Nasional Indonesia.

Kalau ada yang paling anti dengan asing, adalah para prajurit TNI kita yang sangat kita banggakan. Harusnya Ibu juga tau kalau saudara-saudara TNI mayoritas sangat menghargai pak Prabowo Subianto karena pernah mengomandani mereka dulu. Mereka sangat sepaham dengan pak Prabowo bahwa keamanan nasional dari antek-antek asing adalah harga mati. Mereka sangat ketat dalam hal itu.

Ibu yakin menuduh mereka nyelundupin Cina…?

Leave A Comment