Menuju Puncak Cebong VS Kampret 2019

Spread the love

Saya menulis ini, sendiri, subuh tanggal 22 mei 2019, di Tanjung Duren, Jakarta Barat.

Dengar-dengar kabar, di Tenabang ricuh, dan di depan Bawaslu sudah mulai pake gas air mata. Saya kembali teringat ucapan teman lama saya, Akhmad Fathonih, saat bertemu di Shinagawa, Jepang, dua tahun lalu.

“Blek,” Katanya. “Kalau kamu lahir dan besar di Indonesia kemudian pindah ke sini, rasanya di sana itu seperti negeri yang dilaknat Tuhan.”

Waktu itu, saya ngakak sengakak-ngakakknya. Subuh ini, saya kembali ngakak.

Untuk menjadi negara adikuasa, Amerika perlu mengalami perang saudara dulu. Perang itu terjadi dari 1861 sampai 1865. Setelah perang selesai, mereka menjadi dewasa, bersatu, dan mayoritas terbuka pola pikirnya. Naik tingkat menjadi negara maju, bertahap tapi pasti meninggalkan status negara berflower. Sampai sekarang, Wikipedia mencatat perang saudara tersebut antara kubu Serikat dan Federasi.

Mungkin, Indonesia butuh yang seperti itu. Saat semua perang politik ini usai, negara ini akan menjadi negara kuat yang oke punya.

Meski begitu, kelak, Si Toni teman saya itu nanti mungkin akan tetap berpendapat bahwa negeri ini tetaplah seperti negara yang dilaknat Tuhan. Sejarah akan mencatat perang saudara ini, tapi alih-alih Serikat versus Federasi, ensiklopedia online apapun yang ada nantinya akan mencatat perang saudara bersejarah ini dengan nama lain, dan tak akan lekang oleha masa.

Cebong VS Kampret.

Memang lucknut… 🤣

Leave A Comment