Bang Hamli Dari Banggai

Spread the love

“Mengapa presiden di Indonesia cuma satu padahal Indonesia sangat luas?”

Pertanyaan itu dilontarkan dengan logat khas yang sering dipakai di Indonesia Tengah dan Timur. Pertanyaan itu ditujukan ke pak Soeharto, pada tanggal 13 bulan tujuh tahun 1994 di acara Gelantara, Gelar Anak Nusantara, saat Hari Anak Nasional di Istana Negara.

“Eahahahaha…!” pak Soeharto tertawa, diikuti para hadirin.

Perlahan, dengan suara bariton yang jadi ciri khasnya, pak Soeharto menjawab, “Ya terang itu, presiden itu hanya satu, untuk memimpin bangsa dan negara. Kalau sampai dua-tiga itu nanti lantas tidak bisa berjalan dengan baik. Banyak pemimpin, banyak kapten, kemudian lantas negara menjadi rusak.”

Kemudian, terjadilah sesuatu yang barangkali membuat siapapun yang hadir di situ bergidik, meski dalam suasana penuh canda. Pak Soeharto balik bertanya kepada Hamli, tetap sembari tersenyum, tapi dengan gaya interogatif bak sersan Kopkamtib menguliti tangkapannya:

“Kenapa kamu tanya begitu? Heh?”

Hadirin tertawa.

Pak Soeharto mengulangi lagi, “Kenapa? Kenapa kamu tanya begitu?”

Hening sejenak.

“Siapa, yang suruh siapa?”

Pak Soeharto terkekeh diikuti hadirin yang kembali tertawa.

“Kalau di rumah juga begitu. Kan, tidak ada bapak 2, 3. Iya, toh? Bapak itu hanya satu, toh? Yang memimpin rumah tangga itu bapak. Ya hanya satu.”

Anak itu namanya Hamli. Bang Hamli. Ia berasal dari Banggai, Sulawesi Tengah.

Dan saya akhirnya bisa lihat muka orangnya sekarang!

Leave A Comment