Kuatlah!

Spread the love

Kita itu kadang terlalu tinggi hati untuk memberikan kata-kata penyemangat dan pendukung. Takut kakau nyebarin, bakal ngerasa ngambil keuntungan dari kemalangan yang ditimpa oleh orang lain dengan perkataan-perkataan semacam ini.

Padahal, sebenarnya yang kita pikirkan adalah diri kita sendiri, nama kita sendiri. Kita takut dicap menggunakan kemalangan orang untuk nyari tenar dengan perkataan sok baik. Yang kita pikirkan ya diri kita, image kita, bukan orang lain. Ego kita ketinggian, sehingga kita merasa ragu untuk memberikan kata penyemangat melalui media yang kita miliki.

Atau mungkin bukan kita. Hanya saya. Saya seperti itu, kemarin.

Sampai kemudian, saya baru sadar kalau saya nggak bakal tau ada gempa di Sulawesi, kalau pesan penyemangat seperti ini nggak mampir di linimasa saya kemarin lalu.

Media sosial sejatinya adalah tempat tukar informasi. Betul, lewat media tersebut orang bisa jadi terkenal, bisa panjat sosial. Dan tentu juga bisa bersosialisasi, termasuk mensosialisasikan sebuah kabar. Tapi, kita sering dibanjiri komentar bahwa hal seperti ini nggak ada gunanya, nggak ngubah apapun, dan semacamnya.

Karena bisa jadi, dari kabar yang kita sebarkan, orang yang tidak tau menjadi tau, dan yang sudah tau, semakin tergerak untuk membantu. Semua ada manfaatnya, sekecil apapun.

Bahkan pada kecelakaan saja, memberikan perhatian itu pertolongan paling pertama. Orang jatuh tersandung saja akan sedikit lega hatinya, jika orang di sebelahnya bertanya “apakah kamu baik-baik saja?” Meski nyatanya dia tentu tidak baik-baik saja karena jatuh, yakinlah, ada perasaan lega di sana. Ada yang menanyakan, ada yang perhatian.

Maka itu, saya meneruskan kabar ini. Saya membagi penyemangat ini. Mungkin ada yang seperti saya beberapa hari yang lalu. Yang tidak tau, atau mungkin tidak mau tau. 🙂

Leave A Comment