Balada Endorser Instagram

Spread the love

Kisah ini berawal dari Sony yang nggak sengaja nemu iklan di Instagram seminggu lalu. Iklannya tentang kredit mobil baru DP 0 persen, tapi nggak nemu-nemu lagi. Itulah sebabnya saya dan dia menghabiskan waktu tengah malam dengan mencari iklan mana yang dilihatnya, semata-mata karena pengen beli mobil buat Warung Mie Atom tapi modal sekarat. Orang-orangnya juga ikut sekarat, nggak nemu-nemu, karena tempat yang dicari seluas internet.

Bagai mencari jarum di tumpukan pupuk kompos. Udah tau susah, bau, masih pula dilakoni. Yang goblok sih cuma saya dan Sony. San-San udah ngulet di dalam kamar.

“Lihat! Lihat!” Seru saya yang udah empet sama ngutak-ngatik keyword cicilan 0 persen tapi tetep juga nggak nemu iklannya.

“Opo o?” Kata Sony sambil mendekat. “Entuk a Blek?”

“Bukan, bukan itu. Ini lho. Setelah tak pratiin, jumlah follower instagram saya lebih banyak dari teman-teman kita yang orang film!” Kata saya.

“Nyoh, liat. Bahkan dibanding profil cewek cakep ini, jumlah follower saya lebih banyak!” tambah saya. “Dek e 2000an tok, sek akehan aku seng 4 sewu.”

Jumlah follower organik yang rada geblek, mengingat isi instagram saya tanpa konsep nyampur blas nggak jelas kayak makanan hewan ternak.

“Oh, iyo yo… Apik memang encek penunggu warung iki!” Sahut Sony bersemangat!

“Yo opo rek lek aku gawe dadi paid endorsment ae? Mana tau iso tuku mobil anyar.” Ujar saya.

Sony nyengir, saya juga nyengir. Kalau diseriusin, dan dikonsepin dengen bener, mana tau followernya nambah.

“Iya Blek.” kata San-San di dalam kamar.

“Selain endorsment pemutih ketiak, kamu juga iso ngiklano obat seng bikin puting pink iku.” tambahnya lagi kemudian ngakak.

Leave A Comment