Tentang Dompu Adalah Tentang Yanuar Arafat

Spread the love

Beberapa bulan lalu, kawan saya meminta saya menulis tentang kampung saya, kampung kami, Dompu. Dengan tema negeri para petualang. Sampai barusan, saya tidak menemukan apa yang bisa saya tulis tentang hal itu. Dompu mungkin memiliki banyak pantai, sabana yang luas, dataran tinggi yang elok, hutan yang rimbun, sungai yang sejuk, dan orang yang rajin menyapa, tapi saya tidak berpetualang di Dompu. Saya dulu hidup di sana. Kawan yang meminta saya menulis ini pun begitu.

Di Dompu, saya dan kawan saya itu, bertualang dalam waktu.

Namanya Yanuar. Yanuar Arafat. Anaknya bertubuh kecil, ramping dan gesit. Rumahnya di atas bukit, di kampung bernama Renda. Kampung yang penduduknya keras dan gahar. Yang harga dirinya tinggi, yang berani mati. Rata-rata orang Dompu itu nekat, tapi orang-orang dari kampungnya Yan lebih nekat lagi. Mungkin karena dulu kampungnya Yan adalah markas prajurit khusus kesultanan.

Black ops lah, soalnya resep kopi campur kunyit yang bisa bikin orang kejang-kejang beser dehidrasi itu dari kampungnya dia.

Almarhum bapaknya Yan dan bapak saya, adalah teman sejak keduanya masih sangat muda. Jadi, bisa dibilang, saya dan Yan berteman sejak masih berbentuk sperma. Dia sperma yang sedikit menjengkelkan. Soalnya, setelah menjadi manusiapun, mulutnya sangat tajam. Menulispun demikian. Pedas, sindiran yang membakar, dan sikap yang bodo amat.

Emmm… Tunggu, sepertinya saya juga begitu ya? Ahem. Mungkin saya pada dasarnya memang demikian, tapi berteman dengannya membuat dasar saya lebih teramplifikasikan.

Tapi setajam-tajamnya mulut Yan, terus terang dia sangat baik. Kebaikannya akan membuat kamu jengkel. Kenapa? Karena dia akan mengatakan tidak ingin membantu, kemudian diam-diam malah membantumu, dan saat kamu akhirnya tau bahwa kamu dibantu olehnya, dia akan nyengir ngejek sambil bilang “Sante bos, bersikaplah biasa saja.”

Yah, kira-kira macam Dilan yang fusion sama Suneo. Dilaneo lah. Dan, seumur hidup saya, si Yanuar Dilaneo Arafat ini adalah orang pertama yang bilang saya cina.

Jadi waktu kami SD, si Yan ini geng-gengan sama tiga orang teman SD kami yang lain. Noris, Noval, sama Steven. Suatu kali, saya diantar ke sekolah sama ibu saya. Nah, muka mamak ku tu kan cina kali. Dilihatlah oleh si Yan.

“Wah Farhan! Benar sudah! Ternyata kamu cina!” Sekonyong-konyong Yan muncul bersama gengnya setelah ibu saya balik ke rumah.

“Wah, kamu cina ya Farhan?” Sambung Noris.

“Hum, sepertinya memang dia cina.” Tukas Noval yang keturunan arab itu.

Nah, sebenarnya di sini masih nggak aneh, sampe si Steven yang sorak-sorak.

“Hore! Ketahuan! Ternyata memang kamu cina!” Katanya.

Dalam hati saya berpikir, lah ini si Steven anaknya om Pao toko Monalisa ngapain ikut-ikutan nyorakin? Watdehel lah fak!

Karena itu, hubungan saya sama Yan lebih banyak marahnya ketimbang baiknya. Pisah kelas juga waktu SMP. Sampai SMA, akhirnya kami pisah sekolah. Saya rada senang waktu itu. Hahaha…

Kemudian kami ketemu lagi pas baru kerja. Dia selepas SMA langsung masuk STAN, ngambil D3 sebentar, kemudian kerja. Saya yang drop out, beli izasah, terus kerja juga. Jadi, kami sama-sama kerja di usia yang muda banget, 18 tahun. Waktu itu, saya pulang kantor, nutup gerbang, dan dia lewat naik sepeda motor bebek yang baru dibelinya.

Saya senang bisa ketemu teman seumuran yang sama-sama kerja. Soalnya di kantor isinya orang-orang tua semua. Jadilah saya sering jalan bareng Yan lagi.

Di Dompu dan seantero pulau #Sumbawa dulu, internetnya kan busuk banget. Internetnya pake Telkomnet Instan. Internet broadband aja baru masuk akhir 2009, itupun nggak semuanya tercover karena jalur telepon hanya ada di pusat kota. Sisanya susah banget. Saya sering bela-belain naik motor ke pulau sebelah, Lombok, atau sekalian ke Jakarta, cuma untuk ngopi anime dan bikin repositori Linux. Dua hal yang, yah, sayangnya dari sekian banyak penduduk Dompu, cuma si Yan yang minat. Tapi karena ada yang minat, sudah cukup untuk membuat saya bahagia.

Karena itulah, waktu saya nongkrong sama Naif, kang Jay, sama Jim di Starbucks Sarinah saya dianugrahi gelar orang yang kecepatan downloadnya 60 km/jam.

Mungkin, hidup saya di Dompu bakal sangat membosankan dan redundan kalau tidak ada Yanuar. Sangat banyak yang dia perbuat untuk memperkenalkan Dompu ke ranah nasional dan internasional. Saya sendiri yang menyebutnya kegiatan buang-buang uang dulu, entah kenapa jadi turut ambil bagian. Entah sudah berapa banyak tamu dari dalam negri maupun mancanegara yang numpang singgah kemudian kami jamu hajat hidupnya dulu, di Paruga Parenta kelurahan Bada, waktu saya ngurusin stasiun radio di sana. Berkampanye pula di dunia maya, tentang Dompu yang sangat layak menjadi destinasi wisata. Terakhir, Yan membuat akun visitdompu di instagram, yang foto-fotonya sungguh aduhai.

Dari zaman kawan kami si Budiman masih merajut asmara, gagal cinta, kemudian akhirnya menikah dan beranak pinak. Dari zaman Ukang masih sendiri dan kemudian dapat istri. Dari zaman Edi yang masih setia jadi bujang hingga kini. Didahului Ito sama Iwan. Gafur? Entahlah.

Saya suka dan selalu ingat saat-saat saya bermotor di sabana Doro Ncanga di kaki gunung Tambora nan luas, diselang-selingi pohon kecil dan kuda liar. Terkenang selalu matahari tenggelam yang indah dari Nanga Tumpu yang menghadap laut. Barisan terumbu karang di Calabai dan Lakei yang airnya bening sehingga tidak perlu snorkling. Ah, di Dompu, banyak sekali yang indah.

Air terjun ratusan meter dua tingkat di tengah hutan rimbun, sungai kecil jernih yang bermuara di pantai air panas, bibir kawah di atas awan yang seluas lapangan bola, mata air tawar yang hanya lima langkah dari pantai, lima bukit di tengah hutan yang berbentuk tangga seperti piramid, dan sungguh, masih banyak lagi.

Saya suka Dompu, sungguh. Bisa jadi, yang mengajarkan saya untuk suka dengan #Dompu salah satunya adalah Yan. Salah duanya ya… Si Ukang, Furkan Samadha, yang dulu saya pernah tulis. Keduanya memang sangat lekat dengan cintanya terhadap Dompu, yang selalu membuat saya kagum.

Kalau sedang ingat Dompu, entah kenapa yang terbayang duluan di benak saya selalulah Yanuar terlebih dulu. Barulah fiturnya yang lain. Dompu itu Yan. Cuek, nyinyir, semaunya sendiri, tapi berkesan di ingatan.

Tota ba dou romo re ni, dasar tanah para petualang…

Leave A Comment