Satu Langit

Spread the love

Saya suka memandang langit, dari kecil. Ada rasa damai di situ. Saya merasa masalah saya, sebesar apapun, adalah kecil di hadapan semesta. Jadi, saya bisa tersenyum. Langit memang menentramkan.

Apalagi, jika saya bisa memandangnya sampai horizon. Gradiasinya dari biru muda ke pekat yang kadang bersembunyi di balik awan saat siang, atau bulan berteman hamparan bintang saat malam. Jika itu kota, maka adalah awan sepetak dua petak temaram memantulkan cahaya lampu di bawahnya yang sesekali diiringi kedipan lampu pesawat terbang. Saat subuh atau senja, maka seluas pandang diisi semburat jingga.

Dulu, sebelas tahun lalu, di Cyber Building Mampang, saya dikasihin anime oleh teman saya. Dwi Wahyono. Judul anime yang dia kasih itu Sola.

Di anime itu, ada sepenggal dialog. Maknanya, dimanapun itu, walau langit yang kupandang beda dan langit yang kau pandang beda, satu langit yang kita lihat.

Saya akhirnya jadi sering menggunakannya. Sepertinya sekarang kalimat itu jadi terkenal.

Baguslah.

Mungkin saja dia, saat ini, sedang memandang langit. Tentulah menyenangkan memandang hal yang sama dengan seseorang yang kamu sayang, bukan?

Hai… Apa kabar?

Leave A Comment