Lampion

Spread the love

Kamu yang pernah datang ke Warung Mie Atom pasti pernah liat lampion merah ini. Lampion yang tetap menggantung di sekat kayu bagian belakang warung.

Saya dan Sony membeli lampion ini seminggu sebelum #sincia tahun lalu. Malam-malam, hujan rintik-rintik, di pasar Glodok. Menawar mati-matian dengan penjualnya. Waktu itu, saya, Sony dan San-San, baru saja pindah dari Kalibata ke Tanjung Duren. Duit tipis abis, buat bayar sewa mobil engkel bak buat pindahan. Pasar dan pelanggan otomatis harus nyari baru, karena pindah ke #Jakarta Barat dari Jakarta Selatan, berarti buka lahan. Babat hutan.

Sebulan lagi sincia. Berarti, sebentar lagi, lampion ini bakal ulang tahun yang pertama.

Lampion ini, sejak dibeli, sudah makan asam garam bareng warung. Kena panas, debu, asap knalpot, angin dan hujan karena pernah digantung di depan. Sudah merasakan tendangan dari sepatu boot kulit asli sol tebal Asta, teman kami, waktu #warung dipinjam pake buat tempat shooting. Sudah jatuh berulang kali, entah karena ikatannya lepas atau putus.

Tapi warnanya tetap masih merah terang dan bagus.

Itulah mengapa lampion ini begitu spesial. Lampion ini bukan jimat. Buat anak-anak warung, #lampion ini pengingat dan penyemangat.

Jadi kapanpun, sesulit dan sesakit apapun, masih bisa ketawa dan senyum. Harus bisa nyari jalan lagi. Harus bisa tegak berdiri. Harus bisa cerah, seperti lampion yang masih merah. Jadi hidup dan diri ini bisa terus naik tingkat menjadi lebih baik.

Pokoknya, tahun ini, entah gimana caranya, kita harus bisa jualan pake foodcar.

Toh ginjal masih lengkap.

Leave A Comment