Semakin Beragama Harus Semakin Berhati-hati

Spread the love

Saat kita beragama, kita harus semakin hati-hati, karena kita akan semakin mudah merasa diri lebih tinggi dari orang lain. Kita sering lupa, apa yang dihadapi oleh orang lain, beda dengan diri kita. Itu membuat kita sering kosple jadi hakim, padahal berkas kasus saja nggak punya. Mungkin, salah satu penyebab orang asal ngewe, kemudian hamil, hidup susah, dan akhirnya anak-anaknya ikut susah, diawali dari omongan temannya yang seperti ini.

Sekedar menambah pengetahuan, kecenderungan sosial manusia itu nggak cuma hitam putih straight dan gay. Perpotongan keduanya disebut biseks. Istilahnya AC-DC. Biseks sendiri, ada yang cenderung lebih berat ke straight, ada yang ke gay. Dalam pandangan orang yang beragama secara bijak, godaan yang dihadapinya sama. Yang straight, godaannya adalah ngewein cewek yang belum dinikahinya. Yang gay, godaannya adalah ngewein manusia yang jenis kelaminnya sama. Sama kan, level godaannya?

Tapi mari kita lepas agama sejenak. Di dunia ini juga banyak preferensi seksual yang mungkin jarang kamu dengar. Misalnya sapioseksual. Itu orang yang tertarik pada kecerdasan. Kalau kita ketemu yang kayak gitu, mau dihakimi pake apa lagi?

Niat yang baik untuk membantu, adalah membantu mencarikan. Membantu mengenalkan. Bukan membantu menyemangati dengan menghakimi. Tunggu, yakin punya niat membantu? Bukan cuma dapat kesempatan untuk menertawakan agar merasa diri lebih baik?

Oh ya. Saya straight. Saya cuma jarang nemu cewek yang nyambung isi kepalanya sama saya. Mungkin karena mental bangsa ini masih perlu dibina. Sabar, ya, semua. Saya masih berjuang kok. Kan orang-orang nggak hidup 24 jam bareng saya, jadi nggak tau aja.

Leave A Comment