Kakek Tunanetra Yang Saya Temui Di Halte Busway

Spread the love

Pertemuan saya dengan kakek tuna netra ini terjadi dini hari, di dalam halte busway di Central Park. Saya, yang kecapean sepulang dagang mie di booth Warung Mie Atom yang diundang bazaar 50 Bakmie Terlezat versi Tirta Lie di Moi, sedang menunggu busway malam yang terkenal lama banget datangnya. Hendak ke Blok M untuk kerja sambilan keesokan harinya, sekali ganti bus dari Semanggi. Sony, San-San, dan Engku, sudah pulas tidur di Warung Mie Atom Tanjung Duren setelah saya antarkan.

Jadilah saya setengah mengantuk hingga tidak sadar bapak tua itu datang, sampai dia duduk di samping saya, kemudian menepuk pelan pundak saya.

“Maaf, mau ke arah mana?” Tanya sebuah suara yang menyadarkan saya dari lamunan ngantuk. Terdengar samar logat Jawa Timur dari suara itu.

Saya memperhatikannya, melihat tongkatnya, dan melihat matanya yang pudar. Barulah saya sadar ia tuna netra.

“Mau ke Blok M, pak. Bapak mau ke mana?” Jawab saya.

“Ooh…” Dia terdengar sedikit kecewa. “Saya mau ke Harmoni.” Sambungnya lagi.

Saya melihat sekeliling. Tidak ada orang lain di halte itu. Dari halte tersebut, memang lewat dua jurusan. Satu ke Bekasi lewat Semanggi, satu ke Harmoni. Saya memandang kembali si bapak tua.

“Gini pak, nanti sama saya aja. Saya antarkan bapak ke halte Harmoni.” Ujar saya. Toh selama tidak keluar dari halte busway, bayarannya tetap tiga ribu lima ratus rupiah. Ketimbang si bapak ini nyasar ampe Tanjung Priuk, kan?

Si bapak terlihat cerah dan menerima tawaran saya. Jadilah saya menggandeng bapak tua itu ke dalam busway yang menuju halte Harmoni.

“Terima kasih banyak, namanya siapa?” Tanyanya saat kami sudah duduk di dalam busway.

“Farhan, pak. Farhan Perdana.” Jawab saya sambil tersenyum, meski dia pasti tidak melihat senyum saya.

Dia membalas senyum saya, meski tuna netra. Mungkin dia bisa menangkap senyum saya dari suara saya, atau memang itu kebiasaannya. Saya tidak tau.

“Ooh, halo Perdana. Saya Tomi.” Ia memperkenalkan diri. “And where do you work, Perdana?” Tanyanya kembali.

Saya kaget. Saya tidak menduga dia bisa bahasa Inggris. Lebih lagi kok dia bisa mengasumsikan bahwa saya bisa bahasa Inggris.

“Pardon, sir?” Ujar saya masih tidak percaya.

“I asked here do you work? what is your job?” Tegasnya kembali dengan lidah yang faseh, setaralah dengan lulusan TOEFL. Logat Jawa Timurnya hilang total.

“Ooh, ya ya. Me? I am just an average I.T. guy at Melawai.” Jawab saya agak terbata-bata karena masih kagum dengannya.

Jadilah sepanjang perjalanan dia berbincang-bincang dengan saya dalam bahasa Inggris. Aslinya dia dari Surabaya. Terakhir matanya bisa melihat 25 tahun yang lalu, dan sekarang tidak lagi.

Tidak terasa, bus yang kami tumpangi sampai di Harmoni. Saya mengantarkannya sampai gate keluar untuk ngetap kartu.

“Guess we parted here, Perdana.” Katanya sembari menjabat tangan saya, kemudian melangkah keluar dari gate.

Saya memperhatikannya melangkah naik ke atas jembatan penyebrangan. Pelan, pelan sekali. Begitu tongkatnya menyentuk pagar batas, dia belok. Ada kali 5 kali dia mentok, baru bisa nemu jalan ke atas jembatan penyebrangan. Butuh waktu sekitar tiga sampai 4 menit untuk menyelesaikan jarak tempuh yang oleh orang normal bisa diselesaikan dalam hitungan detik.

Ah, faklah dengan biaya 3500 ini. Pikir saya, ngetap kartu di gate keluar busway, kemudian mengejarnya.

“Hey sir, wait up. Guess I will walk you to… Heck, I even have no idea where you wanna go but let me just walk with you!” Seru saya memanggilnya.

“Oh, that is a very nice of you.” Katanya sambil tersenyum, dengan mata butanya yang menerawang ke atas. Saya meraih tangannya, dan menuntunya naik dan turun. Keluar dari jembatan halte, kemudian menyusuri jalan Gajah Mada, ke arah Kota Tua. Jalan dengan pelan, sambil ngobrol lagi. Kadang pake bahasa Indonesia, selebihnya dengan bahasa Inggris. Saya menceritakan kalau saya orang Dompu, dan dia langsung tau kalau itu di pulau Sumbawa. Pengetahuan bapak ini luas juga.

Sesampainya di halte Kopaja depan Plaza Gajah Mada, si bapak berkata ke saya.

“Thanks, this is far enough. I want to sit and drink Coffee here.” Katanya seolah bisa melihat bahwa ada halte di situ. Kuat juga ingatan si bapak ini. Bisa jadi dia menghitung jarak tempuh dari halte ke tempat tersebut untuk tau di mana dia bisa duduk dan minum kopi. Halte di Jalan itu cuma satu, dan pedagang Starling, Starbak Keliling, penjual kopi sachetan yang pake sepeda, mangkalnya emang di depan situ pas larut malam.

“Oalah pak e… Lek gelem kopi ae sampeyan yo keadohan pak!” Seru saya sambil tertawa. Sengaja menggunakan bahasa Jawa meski ngoko, toh dia dari Surabaya.

“Loh, wong Dompu iso to ngomong Jowo.” Serunya balik sambil sumringah.

“Iso lah pak, sithik. Akeh koncoku sing Jowo.” Saya menjelaskan, sambil menghampiri tukang Starling untuk memesan kopi. Bapak tua itu duduk di halte, beristirahat. Setelah membayar, saya menghampirinya membawakannya minuman.

“Sudah jam 2.45. Larut banget, ya.” Katanya sambil menyeruput minuman panas yang saya bawakan.

Saya kaget. Dia bisa tau jam sedetail itu. Apa bapak ini benar-benar buta? Saya heran abis.

“Tau dari mana pak?”

“Oh, ini…” katanya sambil mengeluarkan hape candybar jebot dari sakunya. Saya melihat hapenya. User interfacenya tulisan Cina. Dia kemudian menekan tombol tengah dua kali.

“Shang wu san dai bian.” Suara robotik keluar dari hape bukan android itu begitu tombol ditekan, menyebutkan waktu dalam bahasa Mandarin.

“Ni neng shu pu tong hua ma?” Tanya si bapak ke saya.

Saya kembali kaget. Saya tidak bisa bahasa Mandarin, tapi seingat saya, dan ingatan saya tidaklah mungkin salah, si bapak nanya ke saya apa saya bisa bahasa Mandarin atau nggak.

“Wa emcai kong Mandarin ncek, tan si wa e hiau kong Hokkian. Ancua?” Jawab saya dalam bahasa Hokkian. Sama-sama nggak ngerti aja lah pak sekalian, pikir saya.

“Oh, Hokkian lang ah? Ho ah, wa e hiau kong tampo.” Jawabnya santai.

Malam itu, seorang tuna netra tua membuat saya benar-benar bangga bisa mengenalnya.

Leave A Comment