Can You Speak Indonesian?

Spread the love

Seumur hidup, baru kali inilah saya mengurus kargo motor kiriman untuk masuk ke Indonesia, dan motornya mau langsung dipake dari terminal kargo. Nggak pake jasa pengiriman lain. Teman baru yang dikenalkan om Robin, pak Antonio dari Portugal, hendak menggunakan BMWnya untuk jalan-jalan di Indonesia, dan motor itu nyempil di terminal kargo Soekarno-Hatta berhari-hari. Maka berangkatlah kami ke sana, mengurusnya, pake Grab.

“Ummm… Ken yu , ken yu tolk Indonesia?” tanya sopir Grabnya ke saya tertatih-tatih.

“Tentu bisa, mas.” jawab saya, dan mobil itupun membawa kami ke terminal kargo Soekarno-Hatta pagi-pagi.

Sampai di kantor urusan bea dan cukai, antrian sudah panjang. Menunggulah kami di sana, sekitar 3 jam. Sampai akhirnya dipanggil. Pegawai bea cukainya sempat berbicara sebentar ke pak Antonio, kemudian berpaling ke saya.

“Excuse me, can you speak Indonesian?” ujarnya ke saya dengan muka lusuh.

“Tentu bisa, pak.” jawab saya, sama seperti jawaban saya ke supir Grab. Pegawai bea cukainya tersenyum, dan menjelaskan panjang lebar mekanisme klaim barang, ke mana kami harus menghadap, dan semuanya.

Setelah itu, pergilah kami mengadap kepala gudang. Sebuah ruangan yang tampaknya dibuat dari kontainer bekas. Kaca pintunya suram menguning. Saya membuka pintu dan masuk.

“Siang pak.” Kata saya. Petugasnya memandang saya sebentar, kemudian bertanya.

“Are you Indonesian? Can you speak Indonesia?”

“Tentu bisa, pak.” Jawaban standar saya lagi keluar, kemudian sembari tersenyum saya menambahkan, “lek Jowo seng ngoko iso, hayang Sunda oge tiasa, side mele ngeraos Sasak aok wah, pala ita kombi mu nee nggahi Mbojo rau de taho.”

Petugasnya memandang saya sebentar dengan tatapan aneh, kemudian ikut tersenyum, dan meminta surat-surat yang diperlukan. Setelah itu, dia mengarahkan kami untuk mengambil barang.

Di gerbang pengambilan barang, sebelum masuk, ada pemeriksaan. Pak Antonio menunjukkan passpornya, dan saya menunjukkan surat pengantar bea cukai beserta kartu Identitas saya, SIM saya ke satpam.

“May I see your passport, sir?” kata mbak satpamnya ke saya, sambil lalu.

“Loh mbak, saya orang Indonesia. Ini SIM saya.” mbaknya kembali melihat SIM saya, kemudian memandang muka saya, melihat SIM saya lagi, kemudian baru mempersilahkan saya masuk ke mesin detektor metal.

“Something happened?” Seru pak Antonio dari seberang. Dia sudah menyelesaikan pemeriksaan.

“Naah, nothing really. Mungkin karena ini bandara, protokol standar operasional mereka mengharuskan setiap orang dicurigai sebagai bukan orang Indonesia.” Ujar saya dalam bahasa Inggris.

Kemudian muncullah dua pasangan cowok-cewek di antrian belakang saya. Yang cewek enci-enci dandanan Korea abis. Rambut dicet merah, celana jeans superpendek belel, sementara si engkonya baju ngegym putih pake kacamata Psy Gangnam Style.

“Tolong KTP atau kartu Identitasnya ditunjukkan.” Ujar si mbak satpam dalam bahasa Indonesia faseh ke pasangan itu dengan nada datar.

Saya langsung mau gantung diri.

Leave A Comment