Ramai Sungguh Bandar Jakarta

Spread the love

“Ramai sungguh bandar Jakarta. Tempat orang mengikat janji.”

Itu dua larik pertama salah satu pantun lagu Injit-Injit Semut bikinan Rinto Harahap yang dinyanyikan grup The Mercy’s. Saya sangat familiar dengan lagu itu. Bapak saya sering memutarnya dulu, bersama lagu-lagu lawas dari grup seangkatannya di mobil legendarisnya yang berplat EA 18 C. Kijang kotak jadul yang knalpotnya racing. Mungkin itu salah satu caranya mendidik saya supaya jadi abdi negara, jadi kalau diajak karaoke ama pejabat saya bisa. Entahlah.

Tapi dua larik itu sangat menarik dan indah. Betapa tidak, dua larik pertama pantun lain di lagu itu terasa dibikin sekenanya, yang penting berima.

“Jalan jalan ke Tanah Deli. Sungguh indah tempat tamasya.”

“Naik prahu ke Pulau Seribu. Sungguh indah si pulau karang.”

Atau sekalian yang bentuknya udah kayak lucu-lucuan.

“Kalau pergi ke Surabaya. Naik prahu dayung sendiri.”

Lek ngono yo modhyar awakmu, rek…

Tapi tidak dengan ramai sungguh bandar Jakarta, tempat orang mengikat janji. Kamu akan mendapatkan kesan yang indah dari untaian kata-kata itu. Yang #romantis, yang penuh dengan unsur #melankolis.

Kalau melihat pantun yang lain di lagu itu, penciptanya bisa saja membuatnya dengan perkataan pragmatis instan, seperti pantun lainnya. Dia bisa saja hanya menggunakan kota, bukan bandar. Sungguh ramai, bukan ramai sungguh. Membuat janji, bukan mengikatnya. Hingga dua larik itu bisa saja berbunyi seperti…

“Sungguh ramai kota Jakarta. Tempat orang membuat janji.”

Itu akan lebih satu level dengan pantun-pantun lainnya yang ada di lagu Injit-Injit Semut. Tapi tidak, bukan? Tidak. Ia membuatnya lebih terasa manis dan sederhana. Ada nuansa yang kuat, yang berkesan megah dan indah, lewat kalimat yang dipilihnya. Lebih puitis dan syarat makna.

“Ramai sungguh bandar Jakarta. Tempat orang mengikat janji.”

Mungkin di #Jakarta, di #kota ini, ramai sungguh mereka yang mengikat janji. #Janji yang sekedar diucap kata-perkata, janji yang diikat melalui pertalian #hati.

Mungkin mereka seperti saya, karena itulah mengapa sekarang saya ada di sini…

Leave A Comment