Penciptaan Semesta

Spread the love

Semesta luas yang sibuk itu rapi, teratur. Semua berjalan sesuai aturan. Keramaian yang hening. Kebisingan yang diam. Kemudian, semesta menunduk hormat pada sebuah ucapan.

Ucapan yang bukan suara, ucapan yang bukan tulisan. Ucapan, yang serupa ide, yang sekonyong-konyong muncul menyapa dalam benak setiap ciptaan dalam semesta.

“Sepi. Membosankan. Kau tahu? Ini akan menarik. Semesta yang baru ini akan menarik.”

“Kenapa sepi? Bukankah ada kami, ada saya.” Sebuah suara menyahut pembicaraan itu.

“Itulah mengapa. Kamu, kalian, kuciptakan selalu sesuai dengan apa yang kumau. Bagaimana kalian bertingkah laku, gerak-gerik kalian, semuanya, adalah kehendakku. Bukan murni kehendak kalian. Kalian bukanlah kepribadian yang lain. Kalian adalah sempalan pemikiranku. Pada akhirnya, walau kita saling berbicara, aku hanya berbicara dengan diriku sendiri. Aku bahkan tahu segala yang akan kau katakan. Aku bahkan tahu kau akan bertanya.”

Suara yang tadi menyahut terdiam sesaat, kemudian, dengan penuh kebingungan, bertanyalah suara itu. “Lalu mengapa anda masih mau berbincang dengan saya?”

“Hanya menggunakan ciptaanku, ruang dan waktu. Yang rasanya terlalu sia-sia jika diisi dengan dialog sepihak ini. Itulah mengapa semesta baru ini ingin kuciptakan. Bukankah menarik bagimu, jika semesta ini tercipta kelak, kau akan mengingat pembicaraan ini?”

“Anda benar. Lalu apa semesta yang baru ini?” Suara yang menyahut itu masih bingung.

“Ini permainan. Ya, permainan. Akan kuciptakan mahluk baru yang akan terus berkembang hingga suatu saat dia mengumpulkan pengetahuan yang bisa membuatnya berkomunikasi denganku.”

“Seperti kami?” Tanya si penyahut lagi.

“Tidak. Mereka berbeda. Mereka kubiarkan bebas. Tidak seperti kau dan lainnya. Mereka hanya kuberikan sedikit pengetahuan awal, dan mereka akan mencari tahu sisanya sendiri. Itu akan membuat mereka berkepribadian yang lain. Tidak seperti kalian, seberbeda apapun, tetaplah kepribadianku.”

Si penyahut masih tidak bisa menghentikan keheranannya. “Tapi bukankah karena pengetahuannya yang rendah, mereka malah akan merusak?”

“Itulah mengapa akan kutanamkan rasa sakit ke mereka. Mereka yang sakit tentu akan tidak nyaman, dan mereka yang sudah pernah mengalaminya kemudian tidak ingin sesamanya mengalami rasa yang sama tentu akan mengembangkan sifat yang mirip denganku. Kasih. Dengan pengetahuan yang minim, mereka akan saling berbeda cara pandang dalam mencari siapa aku satu sama lainnya. Cara mereka berkomunikasi satu sama lainnya juga akan berbeda. Begitu pula dengan penampilan mereka yang tidak mirip satu dengan lainnya. Mereka akan terpecah-pecah karena pengetahuan yang sedikit itu. Mereka, yang bisa tetap menyayangi sesamanya setelah semua kekacauan itu, tentu akan mengembangkan sifat-sifat yang mendekatiku. Menarik, bukan?”

“Lalu bagaimana dengan yang tidak?” Satu pertanyaan terakhir dari si penanya.

“Semesta itu adalah penyaring. Yang tidak berhasil tersaring? Musnah. Hilang. Tidak ada lagi. Mereka akan berpikir bahwa ada imbalan dan hukuman, lainnya akan menuduhku jahat. Tidak mengapa. Sebenarnya hanya ada dua hasil, yang menemaniku nantinya dan yang tidak. Yang tidak menemaniku tentu hilang, tidak berbekas, tidak lagi merasakan apa-apa, musnah sepenuhnya. Saat keberadaan hilang, gembira atau sedih tidaklah ada. Bahkan pikiran bahwa aku jahat tidak akan bisa muncul dari sesuatu yang tidak lagi ada. Hanya ilusi dari hal yang nantinya mereka sebut kehidupan.”

Sang ucapan menghentikan penjelasannya, dan semesta luas menunduk hormat, patuh, dan teratur.

Leave A Comment