Bule Jepang Itu Ada Di Bus

Spread the love

Masih ingat dengan bule Jepang yang ketemu dengan saya di Padolo dulu? Yang diajak ngomong bahasa Jepang balas pake bahasa Indonesia? Pas diajak ngomong bahasa Indonesia malah diem ga jawab apa-apa? Terus pas ketemu di tukang tambal ban ngajak ngomong pake bahasa Dompu, dijawab balik pake bahasa Dompu senyum terus diem ga jawab apa-apa? Yang bantu-bantu saya bersih-bersih di BCB? Terus terakhir nyangkut di Nanga Doro?

Saya ketemu lagi dengan dia, kali ini yang kelima.

Saya sedang di atas bus, mengarah ke Lebak Bulus. Mandangin macet yang ga abis-abis. Bus jalan bentar, berhenti lagi. Jalan lagi bentar, terus berhenti lagi. Kalau dilihat dari atas, pastilah macam orang lagi ngantre bikin paspor di kantor Imigrasi. Mendadak, saya dikejutkan dengan suara gembira dan tepukan maknyus di bahu saya.

“Heeeiii! Kamuuuu! Sahabat Dompu sayaaa! Ettooo… Apa khabar! Ragi apa di Jakaruta?!”

Saya tepok jidat karena hal yang sama. Lagi apa Nippon sebiji ini di Jakarta?!

Dia tidak menunggu jawaban dan mengambil tempat duduk di sebelah saya, kemudian menyambung omongannya, tentu dengan logat aneh yang ga ilang-ilang itu.

“Kumaringu saya di Jogja ramaaa sekari, ada kari etttooo, umpattu burang. Saya mengajar bahasa di sana, diajakku temang. Sekarang kita mau coba ngajar juga di… Etooo… Ah! Furuitto, Puruit! Hahahahaha sugge na, sonna kimochi de, wakaru?!”

Buset, ini anak-anak Jogja sama Pluit diajarin ama dia ngomong, jadi kek mana bahasanya?

Saya segera menepis bayangan kelam sekumpulan anak-anak Indonesia yang berbicara dengan gaya si Nippon sebiji ini dari kepala saya.

Mendadak saya teringat satu hal penting.

“Bos, ini tanggal empat bakalan ada demo gede-gedean. Gosipnya sampe bakal ricuh. Kamu jangan ke mana-mana duru di Jakarut… Eh, maksudnya jangan ke mana-mana dulu di Jakarta.” Fak! Tuh kan! Rogatto… Eh, logat ini menular rupanya!

Dia memandang saya dengan mimik serius, kemudian tersenyum, dan mengalihkan pandangannya ke jendela yang isinya bus-bus macet itu.

“Oh, tidak masarah…” Sahutnya. “Saya sudah ke mana-mana di Indonesia, sudah rihat orang-orangnya yang asuri, yang banyak, tidakku ada yang suka ribut. Pasuti akan tetappu aman.”

Saya terpesona sesaat dengan caranya berbicara. Logat acakadut itu seolah tidaklah lagi berpengaruh, seolah-olah ada mandala emas di belakangnya, melayang dan berputar perlahan, menandakan kebajikan yang sempurna. Boddhisatva ita re?

“Ragipura…” Tiba-tiba dia berbicara lagi.

“Karau ada apa-apa, saya kan sukaran suda jadi orangu Dompu. Mitte yo goran…” Katanya sambil perlahan tapi pasti…

…Mengeluarkan keris dari balik jaketnya.

Saya memandang keris yang setengah keluar itu, memperhatikan detailnya.

DUDUK DOMPU COOOK IKU KERIS JOWO TENENAN MOTIFE LHO SEK LAH KON PIYE DODOLANE SAIKI AMBEK SENJATA TAJAM NGONO COOOOOKKK DIBREDEL POLISI GELEM AAAAAAAHH?!!

Saya segera menahan tangannya yang ingin mengeluarkan keris itu seutuhnya dari balik jaket. Dia menolak, ingin memamerkan keris itu ke saya. Saya dorong ke dalam, dia narik ke luar. Gontok-gontokan.

“Cotto de wa ii yo, shimpai shuruna…!” Katanya sambil berbisik.

“Abunai yo korra! Mu ringu ku! Sore wa buki cookkk bukiiiii ndasmu mbok yo dipakek!” Bisik saya tidak kalah keras dengan bahasa panik yang campur aduk dengan Areken dan Dompu.

Mendadak dari depan, sesosok kepala nyembul. Cewek, usia sekitar awal dua puluhan. Mungkin grasak-grusuk kami berdua menarik perhatiannya.

“Ah… Moshikashite, niisan tachi de ano… Nihon jin?” Tanya si cewek sambil tersenyum gembira. Doh, kenapa di ibu kota negeri saya ini penuh dengan Nippon? Ada transmigrasi internasional dari PBB ya?

“Ie.” Jawab si cowok bule Jepang sambil mencabut gagang keris dari sarungnya, yang ternyata isinya batangan bambu, keris-kerisan buat acara mantenan.

“Jin dan jun!” Sambungnya lagi.

Dengan muka pusing campur hampa campur bingung campur minta dikasihani, tidak sadar saya berbisik cukup keras.

“Selalu berduuuaaa…~”

Leave A Comment