Warisan, Kuliner Sekalipun, Emang Nyusahin

Spread the love

p_20161011_195252_1

Jadi, untuk keperluan rebranding ulang depot Cwie Mie dua orang teman saya yang lagi nyari investor, sejarahnya resep mereka harus dicari dan dituliskan.

Sebagai keturunan dari generasi awal Cwie Mie Malang sejak jaman negara Indonesia masih usia underage, penuhlah kertas itu dengan oret-oretan nama dan panggilan kerabat yang saling-silang sana-sini. Dai Bo ke Kung-kung ke Mak Co mendadak muncul nama lain, kemudian restoran yang berubah nama, setelah itu relokasi, pokoknya segala hal yang aneh bin njelimet.

“Ini siapa?” Tanya saya.

“Keluarga luar.”

“Kalau ini?” Tanya saya lagi.

“Keluarga dalam.”

“Tapi abis itu dia nikah sama anaknya Mak Co jadi keluarga dalam terus blablablabla…”

“Terus restoran yang dulu itu kan arti namanya Rumah Tangga. Nah, kalau dibaca, pake logat mana?” Pertanyaan lain terlontar dari saya.

“Khek? Hokkian?”

“Dudduuuk! Boso resmiii! Mandarin!”

Saya semakin pusing.

“Ini kalau restoran kalian ini bisa berhasil lagi, generasi berikutnya pasti oret-oretannya yang kayak gini barangkali ada nama saya, ya…” Ujar saya sambil tersenyum.

“Oh iya pasti, Blek! Nanti tak pasangin fotomu yang gede di sudut sendirian. Lagi duduk, udah tua, pake tongkat, jenggotan sedada. Kalau ditanya siapa, pasti dijawab, ini Encek Farhan.”

“Terus kalau ditanya Encek Farhan itu hubungan keluarganya apa?” Tanya saya kemudian.

“Encek Farhan bukan siapa-siapa. Pokoknya dia datang, terus makan Cwie Mie, terus bilang ‘Anjing! Enak banget ini!’, terus bantu-bantu.” Jawab teman saya.

“Penunggu warung wes!” Sahut yang satunya lagi.

Leave A Comment