Kearifan Lokal Itu Bernama Tante Pai

Spread the love

Kearifan lokal? Meh, biar saya ceritakan ke kamu kearifan lokal di kampung saya.

Festival Pesona Tambora, sabana Doro Ncanga taman nasional gunung Tambora, Dompu, Nusa Tenggara Barat. Hari ini, iring-iringan manusia menuju tempat yang baru diresmikan sebagai taman nasional tahun lalu itu. Ada yang datang menemani fotografer terkenal, ada pula yang datang menemani pejabat teras. Saya juga ikut datang menemani loh.

Saya datang menemani tante Pai jualan Bandeng bakar.

Tante Pai usianya setengah baya. Rambutnya merah jagung. Orangnya rame. Yang paling khas, kalau ngomong, dia selalu menggunakan sudut pandang orang ketiga. Saat bicara, tante Pai menggunakan namanya sebagai pengganti aku atau saya.

“Pai baru bangun.”

“Sudah, biar Pai saja yang urus.”

“Liat tasnya Pai, nggak dae?”

Wiw, tante Pai kalau ngomong unyu-unyu moe banget kan yah? Iya dong. Pai gitu loh.

Tapi tetap tante-tante.

Maka berangkatlah saya menuju lokasi acara bersama tante Pai dan kru restoran dadakannya. Lima orang termasuk saya. Tiga di depan, sisanya di bak belakang.

Mobil pick-up, yang muatan di bak belakangnya berupa meja, bale-bale, tikar, anglo, piring, kompor minyak tanah, belasan jirigen air, dan tidak lupa saya tentunya, menembus hujan lebat dari Bada sampai Kempo. Suara kewer-kewer terpal penutup muatan mengalahkan derum mesin mobil yang dipacu dengan kecepatan tinggi. Sesekali, cahaya bulan redup usia lima belas hari menyeruak di balik awan. Lepas dari Kempo, barulah langit cerah.

Tapi suara kewer-kewer terpal itu benar-benar baru berhenti setelah kami sampai di tujuan.

Di sabana luas di kaki gunung Tambora yang menghadap ke laut, di sanalah tempat bernama tujuan itu. Di bawah taburan bintang dan cahaya senter kecil yang sudah saatnya ganti baterai, lima orang nggak jelas langsung sibuk bongkar muat dan ngoprek tenda.

Setelah tenda didirikan, saya iseng ngitung keuntungan yang bisa didapat dari jualan Bandeng bakar untuk tiga hari, dengan asumsi habis total semuanya, kemudian membandingkannya dengan modal dan ongkos capek.

Capek jalan, capek bongkar muat barang, capek bangun tenda, capek segala macamlah. Termasuk capek denger suara kewer-kewer.

“Anu…” Saya angkat bicara, sementara tante Pai lagi leyeh-leyeh di tikar yang digelar di depan tenda, di samping api unggun. “Tio ba mada, kalaupun semua Bandeng ini habis terjual, untungnya nggak nutup ongkos produksi, belum ngitung capeknya…”

“Sante dae.” Sahutnya. “Pai cuma mau jalan-jalan kok. Cuma ya, kalau jalan-jalan doang rasanya sayang. Mending sekalian Pai jualan.”

Sesaat tante Pai diam, memandang ke arah laut yang dipenuhi lampu-lampu kecil bagan nelayan dan barisan kapal perang TNI-AL yang parkir siaga mengamankan tamu penting yang akan datang di puncak acara. Pak Presiden Joko Widodo.

Kemudian dia nyengir.

“Tahun depan kita jualan Capcay.”

Dafuq.

Leave A Comment