Assalamualaikum Beijing

Spread the love

“Han! Ada film bagus nih! Pas buat kamu! Ayo ke rumah, kita nonton!” Ajak teman saya dengan semangat sambil mengacungkan flashdisk. Maka demikianlah, siang itu saya berada di rumahnya, diberi suguhan kopi instan, duduk di sebelahnya yang segera membuka satu-satunya berkas mp4 di flashdisk oranye berkapasitas dua giga itu. Saya bisa membaca nama foldernya.

Assalamualaikum Beijing.

Saya menoleh ke arahnya, dan dengan mimik serius, dia menyunggingkan senyum.

“Revalina S. Temat yang maen.”

“Oh, drama. Cerita cinta. Mana yang epic dengan kisah cinta saya?” Tanya saya.

“Sudahlah. Kamu nggak punya kisah cinta. Nonton aja.” Tandasnya.

Jadilah saya menonton film itu. Pembukaan, karakter utamanya, si Revalina ke Beijing, terus dijemput temen ceweknya yang datang bareng suaminya, terus ada selipan iklan teh botol yang ceritanya jadi oleh-oleh dari Indonesia, terus Revalina foto-foto ngeliput. Cieee yang jurnalis… NatGeo ita re?

Ah, iya. Kamera tokoh utama itu Fuji seri RX, cakep banget.

Kemudian sampailah di adegan Revalina kenalan dengan tokoh utama pria yang diperankan sama Morgan Oey.

Mendengar mereka saling memperkenalkan nama masing-masing, saya langsung nyembur kopi ke monitor.

Teman saya kaget.

“Buset… Kenapa kamu Han? Anti Morgan Oey?” Tanya teman saya, yang langsung ngepause film, terus ngelap sisa semprotan kopi saya di monitor.

“Nggak, uhuk… Haha uhuk! Nggak, bukan… Uhuk!” Jawab saya sambil batuk-batuk ketawa, ngelap sisa kopi yang meler sampai ke dagu.

“Aneh ngeliat Cina di film Islami?” Tanyanya lagi.

“Nggak, nggak. Saya tau kok, Cina sama Islam itu biasa kok, nggak aneh. Mesjid di Tiongkok saja itu usianya sampe ribuan taun sedangkan di Indonesia saja masih ratusan tahun. Kaisarnya ada yang nulis syair buat Nabi Muhammad juga. Saya tau kok, bukan itu.” Saya sudah agak tenang, tapi masih nyengir-nyengir.

“Terus apa?”

“Itu, judul film ini Assalamualaikum Beijing, dan nama si cowok itu Cong Wen. Aduhhh hahahahaaa…!” Saya ketawa lagi.

“Ha? Terus kenapa?” Teman saya penasaran.

“Gini. Kalau itu film judulnya Assalamualaikum Glodok, pasti itu cowok namanya Kong Hok. Kalau judulnya Assalamualaikum Jembatan Lima, itu cowok namanya Kong Hak Fa. Coba bayangkan kalau itu film judulnya Assalamualaikum Pasar Atom.”

“Kenapa emang?” Tanyanya lagi, masih bingung. Diputarnya lagi film tersebut kemudian duduk, mengambil kopinya dan mulai menyeruput.

“Kalau dia di Pasar Atom Surabaya, nama itu cowok pasti mas Boso Areken Cok!”

Dari mulut yang berbeda, monitor itu basah dengan semburan kopi untuk kedua kalinya.

Leave A Comment