Sayur

Spread the love

“Nyiapin sayur, bantu-bantu ibumu.” Ujar bapak saya jumawa sembari tangannya sibuk bergumul memetik berbagai dedaunan hijau dari kantung plastik hitam kemudian dikumpulkannya ke dalam baskom. Di dalam dapur tepat di sebelahnya, ibu saya tengah menyiangi ikan Bandeng untuk dibakar.

Yoa, saya juga tetaplah pulang ke rumah. Kalau kemping terus di tempat kerja, hidup ini jadi berasa terlalu forever alone.

“Pencitraan nih?” kata saya sembari terkekeh. “Pilkada DKI masi setaun lagi buat saingan sama Ahok.”

Saya tidak bisa melihat muka bapak saya karena posisinya yang memunggungi saya, tapi saya tau dia nyengir.

“Hayah, pencitraan apaan, udah jelas-jelas pensiunan kayak gini nggak ada modal. Hehehehe…” balasnya. Saya tersenyum dan masuk ke dalam ruang tengah.

Selang setengah jam kemudian, makanan seharusnya siap disantap. Saya ke belakang, menuju meja makan. Yang duduk di meja makan ibu saya, sendiri saja. Raut wajahnya kelam.

“Pait amat mukanya, mom? Ada apa?” Tanya saya sambil menyendok nasi, ikan, dan sayur bening ke piring, kemudian duduk.

“Bapakmu itu.” sahut ibu saya.

“Emang kenapa?” tanya saya sambil menyuapkan nasi campur kuah sayur ke mulut.

“Masukin daun pare banyak bener. Bukan daun aja, ampe batang-batangnya juga. Itu udah bukan sayur lagi. Itu jamu.” kata ibu saya.

Muka saya langsung ikutan pait.

Leave A Comment