Bule Jepang Itu Di Nangadoro

Spread the love

Masih ingat dengan bule Jepang yang ketemu dengan saya di Padolo dulu? Yang diajak ngomong bahasa Jepang balas pake bahasa Indonesia? Pas diajak ngomong bahasa Indonesia malah diem ga jawab apa-apa? Terus pas ketemu di tukang tambal ban ngajak ngomong pake bahasa Dompu, dijawab balik pake bahasa Dompu senyum terus diem ga jawab apa-apa? Yang bantu-bantu saya bersih-bersih di BCB sambil nyanyi lagu JKT48?

Saya ketemu lagi dengan dia, yang keempat kalinya.

Karena sudah beberapa hari ini dada saya nyesek bukan alang-kepalang dikoyak-koyak sepi, saya pergi ke Nangadoro. Sebuah tempat di ujung selatan Dompu. Di sana ada pohon favorit saya, tumbuh lain sendirian di tanjung dekat mercusuar tua. Setidaknya, jika mendadak saya ingin gantung diri, itu tempat yang indah.

Nangadoro, tempat kalau malam tiba dan kamu memandang laut, kamu bisa melihat cahaya perkotaan Australia di cakrawala. Kalau kamu beruntung, kamu bahkan bisa melihat Aurora Australis menari di ufuk selatan langitnya.

Entahlah saya beruntung atau tidak, tapi yang saya lihat malah bule Jepang itu, melonjak-lonjak sembari melambaikan tangan ke saya dari pantai karang di bawah mercusuar.

Awalnya, saya kira itu cuma potongan pohon tumbang yang dipermainkan ombak. Sampai benda yang saya kira pohon itu bersuara, yang meski dikalahkan oleh gemuruh pecahan ombak dan suara hembusan angin, sayup-sayup terdengar.

“Torooon! Torooon!”

Saya kenal logat itu. Toron? Tolong, kale.

Maka itulah dia, yang melambai-lambai dari bawah cerukan kecil pasir, tepat di bawah tebing batu pendek yang mengelilingi private beach super mini itu. Meski tingginya hanya empat meter, tebing yang tegak lurus itu terlalu licin untuk dipanjat tanpa bantuan tali.

Pastilah tadi, sewaktu air masih surut, dia berjalan kaki ke cerukan ini dengan menyusur pantai, kemudian tidur-tiduran di bawah naungan salah satu tebing yang menjorok ke laut. Waktu berlalu, air pasang, dan dia terjebak di cerukan ini.

Dan itu lebih bagus ketimbang mencoba berjalan kembali ke arah datang yang menyusuri pantai itu. Di tengah gelombang pasang seperti ini, pilihannya cuma dua. Dihempas ke deretan karang terjal sepanjang pantai, atau dibawa arus laut sampai Australi.

Yang membuat saya terkejut, adalah perkataannya sewaktu melihat saya.

“Ooh, kamu yang duru di tambaru ban dan bursi-bursi radio! Aduh, sukur, sukur! Saya suda tunggu dari kumaring, tidak ada oran yangu rewat…”

Entah bagaimana pola tidurnya, dia melewatkan dua kali air surut.

“Etto… Apa itu namanya? Ah iya, rembo ade, rembo ade.” Ucapnya setelah saya menariknya ke atas.

“Lembo ade rau.” Balas saya sambil tersenyum.

Rencana saya untuk menyendiri batal. Bivak dari semak-semak dan alang-alang ditutup terpal sudah berdiri, kopi sudah diseduh, dan saya menghabiskan sore dengan bule Jepang ini, di muara berair panas Nangadoro, duduk di pinggir pantai berbatunya. Membiarkan kaki saya dialiri aliran air dari sungai kecil berair panas yang bermuara ke pantai.

“Etooo… Tidak ke Rakey tahun baruan?” tanyanya ke saya sambil menyeruput kopi Kapal Api campur serbuk Pop Ice rasa coklat. Saya lupa beli gula.

“Males. Di pantai Lakei, tahun baru isinya orang pacaran semua. Saya jomblo.” Saya ikut menyeruput kopi saya, yang dicampur Pop Ice rasa Strawberry.

“Kenapa?”

“Karena nggak punya pacar.”

“Kenapa?”

“Mungkin kurang ganteng.”

“Kenapa?”

“Kayaknya bawaan lahir.”

“Kenapa?”

Mendengar pertanyaan yang sama tapi diulang-ulang itu, saya benar-benar mau banting kepala ke barisan batu-batu di sepanjang Nangadoro. Masing-masing sekali.

“Aaargghh! Berhentilah bertanya! Oke? Sudah! Cukup! Saya eneg! Banyak cewek yang merasa aman dan nyaman di dekat saya, tertawa dan gembira bersama saya, dan sebagainya, tapi tidak satupun yang pacar saya! Wakattandazo omae, atashi no kimochi? Ano onna tachi wa atashi no koibito wa ja nai!”

“Koibito ja nai?”

“Sou. Sono kanji. Koibito ja nai.”

Hei! Untuk pertama kalinya sejak kenal orang ini, bahasa Jepang saya ditanggapi pula dengan bahasa Jepang sama dia. Nggak ditanggapi pake bahasa lain, terus ditanya balik langsung diam ga jawab apa-apa. Keajaiban!

“Ah, saya tau ragu yangu pas. Kumaring saya dengar di pasaru atas, dekat tukan juaru bisidiii.” Dia nyengir.

Mendadak disimpannya kopi, dan meloncatlah dia ke atas batu besar di depan kami, memunggungi saya, memandang laut, merentangkan kedua tangannya, kemudian bernyanyi.

“Kohi bhiii tooo na ja neee, hum kaise dewaaane hoeee…!”

Dia terdiam. Masih merentangkan tangannya. Saya juga terdiam. Kopi di mulut saya lupa saya telan saking ternganganya saya.

Beberapa saat kemudian, dia menoleh ke saya.

“Kamu tahu itu ragu?” Katanya, memecah suara krik-krik jangkrik campur ombak.

Saya tersadar, menelan kopi yang dari tadi cuma menggenangi mulut, dan tertawa. Dia ikut tertawa. Saya melangkah ke batu di samping batu tempat dia berdiri, ikut memandang laut sambil duduk.

“Saya tahu.” Ujar saya, menarik napas, kemudian menyambung. “Aaajeseee, ja neee mannnn…”

“Diru hai tumharaaa…!” Timpalnya dengan logat India kecampur Jepang. Jimmy Shergill ita re?

Leave A Comment