Natalan Ala Oma Dan Opa Depan Kantor

Spread the love

Adalah rumah seorang pensiunan polisi di depan kantor saya. Saya memanggil mereka opa dan oma. Tidaklah perlu saya tuliskan nama aslinya. Tapi, jika kamu ke Dompu menjelang Natal, satu-satunya rumah yang open house-nya ramai dikunjungi oleh orang-orang yang beragama Islam, adalah rumah itu.

Opa sudah berpulang, almarhum. Setelah opa meninggal, yang menjabat sebagai penyambut tamu utama adalah oma. Tapi dulu, sewaktu ia masih hidup, saya pernah bertanya ke opa. Kenapa bisa begitu banyak orang non-Kristen yang datang ke rumahnya?

“Karena ini bukan acara agama. Ini silaturahmi, yang kebetulan bisa dilaksanakan karena ada THR.” Kata opa waktu itu, sambil tersenyum.

“Tapi kenapa mereka nggak takut makan, opa?” Tanya saya lagi.

“Gampang.” Ujar opa, masih sambil tersenyum. “Kita di Indonesia mayoritas agamanya Islam. Kalau mau dekat dengan sesama warga, jadi Kristen ya nggak perlu makan Babi. Nggak perlu masak pake alkohol. Apa kalau nggak makan Babi opa mati? Apa hidup cuma buat makan?”

“Makanan itu tergantung penyajian dan bosan atau nggak. Kalau lebih sering makan satu daging, nemu daging yang belum pernah dimakan bisa jadi enak.” Tambahnya lagi.

Saya berpikir, almarhum opa mungkin betul. Bagi saya, daging Rusa adalah daging terenak yang pernah saya makan. Tidak bagi kawan-kawan saya yang pemburu. Bagi mereka, daging yang enak itu Sapi.

Maka demikianlah, bahkan hidangan utama yang tersaji di meja panjang itu Bandeng. Ikan Bandeng. Ikan Bandeng di Dompu yang nggak bau lumpur, gemuk-gemuk, dagingnya manis dan gurih. Jika ini bulan Februari, orang yang lewat pasti ngirain itu acara Sincia.

Kini, walau sepeninggal opa dan hanya oma yang menyambut tamu, rumah itu tetap ramai. Apakah orang-orang Islam yang menyalami oma mengucapkan selamat natal? Tidak. Mereka mengucapkan lembo ade. Apakah oma mengabarkan Alkitab ke tamu-tamunya? Tidak. Oma menanyakan kabar keluarga, hal yang menarik, dan pembicaraan khas ibu-ibu lainnya. Apakah acara itu perayaan Misa Tengah Malam, Perjamuan Kudus, atau Liturgi Suci? Tidak. Itu open house.

Atau mungkin seperti kata almarhum opa. Silaturahmi yang kebetulan bisa dilaksanakan karena ada THR.

Kadang, saat melihat oma yang gembira menyambut tamunya, melihat tamu-tamunya makan dengan lahap tanpa rasa khawatir, saya sering terharu.

Perasaan yang sama seperti saat saya membaca Achtiname of Muhammad. Surat resmi yang ditulis oleh Ali bin Abi Thalib, atas perintah nabi Muhammad sendiri, dan diberi cap tangan oleh beliau sendiri.

“Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, sebagai suatu perjanjian bagi mereka yang menganut Kekristenan, jauh dan dekat, kami beserta mereka. Sesungguhnya aku, para hamba, para pembantu dan para pengikutku membela mereka, karena orang Kristen adalah wargaku; dan demi Allah! Aku menahan diri untuk melakukan apapun yang menentang mereka. Tidak ada paksaan boleh dilakukan untuk mereka. Juga tidak boleh hakim-hakim mereka disingkirkan dari pekerjaannya, maupun para biarawan mereka dari biara-biaranya. Tidak ada orang yang boleh menghancurkan rumah agama mereka, atau merusakkannya, atau mengambil sesuatupun daripadanya ke dalam rumah-rumah orang Muslim. Bilamana ada orang yang melakukan hal ini, ia menyalahi perjanjian Allah dan tidak mematuhi Nabi-Nya. Sesungguhnya, mereka adalah sekutuku dan memiliki perjanjian erat dariku melawan semua yang mereka benci. Tidak ada orang yang boleh memaksa mereka untuk pergi atau mengharuskan mereka untuk berperang. Orang-orang Muslim harus berperang untuk mereka. Jika seorang wanita Kristen menikah dengan seorang Muslim, tidak boleh dilakukan tanpa seizin wanita itu. Wanita itu tidak boleh dihalangi untuk mengunjungi gerejanya untuk berdoa. Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dihalangi untuk memperbaikinya atau kekudusan perjanjian-perjanjian mereka. Tidak ada bangsa (Muslim) yang boleh melanggar perjanjian ini sampai Akhir Zaman.”

Saya rasa, opa dan oma tidak perlu selamat natal. Sudah ada lembo ade, kan?

Lembo ade opa, oma.

Leave A Comment