Sultan, Hero, Jet Li, dan SPPD

Spread the love

Jika Galih datang ke kantor malam-malam, saya, yang udah nonjob ini, jadi punya teman ngobrol. Biasanya membahas seputar film. Tapi berhubung tidak ada satupun dari kami yang bisa nonton Star Wars The Force Awaken secara di Dompu nggak ada bioskop, pembicaraan jadi beralih ke penyebab sulitnya generasi muda turut membangun negeri dari sisi pemerintah.

Random sekali memang hidup ini, entah apa kaitannya pembahasan itu dengan film Star Wars.

Tapi sulit, memang. Secara para pemegang kebijakan, di kantor kecil sekalipun, adalah pejabat bereselon yang pangkat golongannya sudah tinggi. Mereka yang baru masuk, memiliki ide segar, dan masih punya semangat, sulit berkutik.

Bekerja giat? Tetap sulit. Mengingat seberapapun bagusnya prestasi kerja, kenaikan pangkat golongan tetaplah empat tahun sekali. Saat mereka menduduki posisi atau jabatan nantinya, mereka sudah pasti kehilangan ide dan semangat. Yang lebih parah, adalah jika sampai terpengaruh kebiasaan dan pola pikir atasannya dulu.

Ini mengakibatkan, semua yang masih punya jiwa membangun negeri hanyalah jadi staff biasa. Yang kerjaannya cuma buat diperintah atasannya untuk bikin SPPD. Surat Perintah Perjalanan Dinas.

“Bade Ibnu? Kenal?” Kata Galih. “Pas masuk, awalnya penuh dengan mimpi akan segudang kreativitas dan semacamnya untuk membangun negeri. Sampai akhirnya akan terbentur dengan kenyataan atasan yang tidak kreatif.”

“Ya, atau yang kreatif, tapi kreatifnya kreatif yang beda.” Sambung saya.

“Nah, ujung-ujungnya au? Ndawi pu ra SPPD re.” Kata Galih lagi sambil tertawa.

Saya juga tertawa. Tertawa pahit, meski keras dan lepas. Nggak tau mau gimana.

“Lao ra. Pergi saja nyari kerjaan di luar.” Ujarnya lagi dengan tatapan serius.

“Kalau begitu, yang paling cocok untuk Dompu ini, modelnya dijadikan cagar budaya saja. Nggak perlu dimajuin. Biarkan tetap begini saja, kalau perlu balikin ke kondisi sebelum berdirinya Indonesia.” Balas saya setengah serius sepertiga kecewa. Sisanya bosan.

“Berarti seperti kakeknya om Dar. Pas jaman kesultanan dulu, kakeknya kan Jeneli.” Galih menyambung lagi. Menarik, jadi saya mendengarkan.

“Ceritanya om Dar, kakeknya itu kalau jalan dari Kempo ke Dompu, naik kuda. Makan waktu dua hari mendaki gunung Tekasire itu. Yang kasihan itu, prajurit pengiringnya. Mereka semua lari. Nggak pake kuda. Mana itu gunung isinya rampok semua.”

Galih menghentikan sejenak ceritanya. Saya menyeruput air mineral, berimajinasi seolah-olah itu kopi. Anggaran kantor cekak, sudah hitungan bulanan kompor di belakang nggak diisi minyak.

“Lebih kasihan lagi, pas laporan sama Sultan. Itu hanya boleh dilakukan dari jarak 20 langkah.” Kata Galih.

“Wah, itu berarti macam film Hero yang bintangnya Jet Li!” saya bertepuk tangan kagum sambil tersenyum. Hei! Akhirnya pembicaraan ini ada hubungannya dengan film!

“Tahu kan? Pas Jet Li ngadap Kaisar, terus dikasih hadiah. Hadiahnya yang itu loh, yang macam, err… Karena kamu berhasil membunuh Changkong, kamu boleh maju dua langkah atau semacamnya. Bahkan melangkah maju mendekati Kaisar jadi penghargaan yang luar biasa. Keren itu!” Saya menambahkan dengan semangat.

“Iya. Tapi kalau di sini jadinya sedikit beda.” Jawab Galih sambil menahan tawa.

“Karena kamu berhasil membuat SPPD, kamu boleh maju dua langkah.”

Leave A Comment