Surat Untukmu Dalam Semesta Fisika

Spread the love

Hai, bagaimana kabarmu? Sehatkah? Semoga baik, dan semoga senyum tak terlepas dari bibirmu. Lama, ya? Tidak tertulis surat untukmu. Meski surat yang mungkin tak akan pernah sampai, meski surat yang bisa jadi tak akan pernah kau baca.

Mungkin kamu pernah bertanya-tanya, apa yang ada di dalam kepala penulis surat bodoh ini, saat tangannya digandeng tanganmu. Mungkin juga tidak. Tapi tak mengapa, biarlah cerita ini mengalir, biarlah kata yang berbicara.

Yang terpikir dibenakku adalah fisika kuantum.

Jangan, jangan marah. Tersenyumlah. Biarlah ini kulanjutkan, agar ada yang bisa kutulis untukmu saat kau jauh.

Kamu tahu? Setiap benda yang ada di jagat raya ini, bila dibelah menjadi bagian yang kecil terus menerus, sebenarnya tersusun dari sesuatu yang disebut atom. Jalan raya yang kita langkahi tersusun dari atom. Trotoar yang kamu pijak tersusun dari atom. Atom jugalah yang membentuk tanganku ini, dan atom pula yang membuat tanganmu yang menggenggam tanganku waktu itu.

Massa sebuah atom, terpusat di nukleus, yang sering disebut inti atom. Di sekitar inti atom ini terdapat ruang kosong. Ruang hampa. Tidak ada apa-apa, kecuali elektron dan proton yang berputar mengelilinginya. Kamu bisa membayangkan seperti sistem tata surya kita, yang mana planet-planet mengorbit matahari. Nukleus, elektron, dan proton inilah yang disebut atom.

Atau lebih tepatnya, satu atom.

Dan yang membentuk aspal itu, yang membentuk trotoar itu, yang membentuk tangan kita, bukanlah satu atom. Jutaan, milyaran, entahlah.

Sama seperti proton, elektron yang mengelilingi nukleus itu memiliki sifat dualitas gelombang-partikel. Tidak, kamu tidak perlu bingung dengan istilah itu. Itu berarti, elektron selain memiliki sifat-sifat partikel, juga memiliki sifat-sifat sebagai gelombang. Bedanya, elektron selalu memiliki muatan negatif.

Seperti sifat partikel pada umumnya yang saling tarik menarik jika muatannya berbeda dan saling tolak-menolak jika muatannya sama, elektron juga demikian adanya.

Kamu bisa membayangkan magnet, besi berani. Jika kamu mendekatkan kutub positif dan negatif dua buah magnet, mereka akan saling menempel. Kebalikannyalah yang akan terjadi jika kamu mendekatkan dua kutub yang sama.

Ini membuat setiap elektron yang mengelilingi nukleus, yang, katakanlah membuat atom ini jadi punya diameter, yang membuat atom seolah punya kulit, tidak akan pernah bisa bertabrakan dengan elektron yang lain karena mereka selalu tolak-menolak. Ini membuat tiap-tiap atom yang menyusun sebuah benda tidak pernah saling bertabrakan. Selalu ada jarak di antara mereka. Selalu ada medan magnet di ruang hampa antara tiap-tiap atom itu.

Saat kamu merasa menyentuh, katakanlah sebuah pensil, kamu hanya merasa. Sel-sel tubuh kamu, yang masing-masing terdiri dari banyak atom, mengirimkan pesan ke otak kamu bahwa kamu menyentuh sesuatu. Padahal, yang terjadi adalah atom-atom di tangan kamu mengirimkan sinyal bahwa ada medan magnet atom lain, atom-atom pensil, yang memberikan efek tolak-menolak terhadapnya. Atom-atom yang menyusun tangan kamu dan atom-atom yang menyusun pensil tidak pernah saling bertemu.

Itulah yang kupikirkan. Sehangat apapun terasa tanganmu di telapak ini, seerat apapun kamu menggenggam tanganku saat kita bergandengan, pada kenyataanya, secara hukum fisika kita tidak pernah bersentuhan. Di tingkat sub-atomik, selalu ada ruang hampa, antara masing-masing atom yang menyusun tangan kita. Sedekat apapun kita, selalu ada jarak yang di antaranya.

Walau tangan kita saling menggenggam, kita tidak benar-benar pernah bertemu. Selalu ada jarak. Selalu.

Maka itu. Yang kuharapkan hanyalah perasaan di hati ini, yang semoga benar-benar bisa sampai ke kamu…

Leave A Comment