Review Ansatsu Kyoushitsu Live Action

Spread the love

Saya jarang nulis review film, tapi kayaknya sekarang perlu. Saya baru kelar nonton Assassination Classroom, Ansatsu Kyoushitsu, yang live action.

Pernah dengar tentang kalau urusan bikin live action serahkan ke Jepang? Film yang satu ini contoh yang bertolak belakang dengan itu. Buruk banget. Saya jadi ingat live actionnya Hokuto No Shinken, Tinju Bintang Utara, yang dibikin sama orang barat pas zaman kadal itu.

Live action Assassination Classroom ini, memampatkan puluhan chapter jadi satu film dengan durasi satu setengah jam-an. Tidak ada pengembangan karakter yang bisa diikuti. Berikut, lelucon yang boomnya nggak dapat, satu karena pemerannya nggak ekspresif, dua karena pemotongan scene yang nggak pas, tiga karena musik latar belakang yang nggak cocok.

Jadi, secara pengembangan karakternya nggak bisa diikuti dan ceritanya ngebut macam kecepatannya Korosensei yang macam kecepatan suara, film ini mungkin dimaksudkan untuk ditonton oleh orang yang emang udah tau ceritanya apaan, dan cuma pengen ngeliat karakter-karakternya gimana kalau manusia asli.

Kalau bicara solusi, saya rasa untuk waktu yang terbatas banget seperti film bioskop itu, sebenarnya ada solusinya. Jadikan cerita di film itu sebagai cerita sampingan. Bukan me-live-action-kan puluhan chapter jadi satu.

Bisa dibuat seperti live actionnya Ninja Rantaro. Atau serial dramanya Galileo Tantei. Atau yang lebih ekstrim seperti Crows Zero. Keluar dari cerita komiknya, dan masukkan beberapa karakter pada komik sebagai penyambung. Sudut pandang baru, dalam semesta, universe, yang tetap sama.

Sayangnya, Assassination Classroom versi live action ini nggak kayak gitu. Alurnya kecepatan, pendalaman karakternya nggak ada harapan, leluconnya datar. Dengan kata lain, nonton film ini cuma ngeliat pemainnya doang, yah, macam nonton cosplay cabaret.

Dan tetap gagal.

Yang jadi Karasuma itu kayak pak RT. Kostumnya si Shiro itu macam pocong lagi kosple Ku Klux Klan, dan ini, dan itu, aduh ampun dah, dimana-mana ancur… Oh, dan itu, pemeran Irina Jelavic, bahkan nggak ada bule-bulenya. Heck, jangankan bule. Itu lidahnya macam abis ngemut es batu 12 jam. Kalo temen saya yang bahasa Inggrisnya kelas Brian Tanpati dengar dia ngomong, bisa-bisa gantung diri.

Leave A Comment