Putri

Spread the love

Dalam beberapa bahasa yang kebetulan saya sering gunakan untuk berkomunikasi, ada kata yang selalu menarik perhatian saya. Kata, untuk menyebut anak, jika anak tersebut lelaki atau perempuan.

Bahasa Inggris, misalnya. Son untuk anak lelaki, dan daughter untuk anak perempuan. Bahasa Jepang? Musuko dan musume, berturut-turut untuk anak lelaki dan anak perempuan. Lain halnya dengan mereka yang bertutur Hokkian, anak lelaki adalah ta po kia, sedangkan perempuan ca bo kia.

“She is our daughter, atashi tachi no musuko da, wa lang e ca bo kia.” Ucap orang tua mereka, saat memperkenalkan anak mereka secara resmi. Artinya tetap sama, anak perempuan.

Tapi kata anak perempuan ini, akan berubah saat bahasa Indonesia digunakan. Kata ini akan menjadi sangat indah.

“Ia adalah putri kami.”

Putri, kata yang digunakan bahasa Indonesia untuk menyebut anak perempuan, sedangkan yang lelaki dipanggil putra. Hanya putra, bukan pangeran. Setidak bangsawan apapun orang tuanya, bahasa Indonesia memberikan gelar putri bagi anak perempuan mereka, secara resmi.

Bahasa Inggris, Jepang, dan Hokkian, tidak seperti itu. Dalam struktur kata bahasa-bahasa tersebut secara resmi, penggunanya tidak memanggil anak mereka sebagai princess, ojou, atau kong cha. Saat kata-kata tersebut digunakan sekalipun, misalnya “she is our lovelly princess”, itu merupakan panggilang sayang, bukan panggilan resmi.

Bahkan bahasa yang paling dekat dengan bahasa Indonesia, bahasa Melayu, resminya menggunakan kata anak perempuan, bukan putri.

Jadi, kamu, iya, kamu, kamu dan kamu, cewek-cewek yang membaca tulisan saya ini, cintailah negerimu ini. Begitu terhormatnya kalian diangkat oleh bahasanya, begitu indah gelarmu yang dihadiahkan Indonesia, dibanding saya, yang di negeri ini hanyalah seorang putra.

Maka jagalah itu, jaga dirimu, gerak-gerikmu, tutur-katamu. Namamu. Berlakulah selayaknya seorang putri, karena kamu memang putri. Karena masing-masing kamu adalah putri bagi ayah dan ibumu.

Dan putri negeri ini.

Leave A Comment