Iya, Saya Suka Masak

Spread the love

Saya suka memasak. Dulu, jika orang tua saya pergi ke luar kota dan menitipkan dua adik cewek saya ke saya di rumah, saya memasak untuk mereka.

Saya ingat, adik kandung saya yang pertama tidak suka bawang. Melihatnya saja dia langsung eneg. Untuk itu, saya benar-benar harus menghaluskan bawang sampai nggak kelihatan bentuknya lagi, dan mencampurnya dengan udang kering, merica atau sereh agar baunya tidak lagi benar-benar kentara. Oh, selain itu, dia juga sangat suka dengan coklat. Kadang, jika tidak ada coklat, saya membuatkan puding dengan hunkwe campur gula merah. Dia lebih mementingkan warna ketimbang rasa.

Adik kandung saya yang kedua adalah pemakan segala. Tidak punya pantangan apa-apa. Yang perlu saya perhatikan hanyalah memastikan dia makan apa yang ada di atas piring, bukan yang di bawahnya.

Yoa, Stephen Chow Sak Seng, Cooking Master Boy, apalah itu segala macam film yang temanya masak-masak geje namanya itu mah lewat kalau lawan saya. Roadkill, bangke hewan di jalan saja, bisa saya jadiin steak oke punya. Tanya aja sama temen-temen saya kalau nggak percaya.

Tapi, saya bego masak nasi, sampai sekarang. Saya sudah belajar ngukur banyaknya air pake jari, ngawasin besarnya api, kapan dimatikan, dan segala hal dari tehnik merebus, menanak, hingga merice cooker, tapi tetap saja hasil akhir dari beras yang saya masak bukan nasi. Kadang bubur, kadang lontong, kadang berondong gosong.

Seperti malam ini, teman saya yang biasanya masak nasi pergi ke Swedia, sementara satunya lagi sehabis dari Aceh langsung berangkat ke Ciputat.

Jadi, menu malam ini adalah Mi Kuah Kuning dan, errr… Ah ya… Perkedel Kerak Nasi. Selamat makan.

Leave A Comment