Iwak E Maybe

Spread the love

Tahukah kamu? Segudang kata rindu, kangen, lama tak jumpa, dan segala macam kata yang menyiratkan ingin bertemu yang ditujukan ke saya saat saya di Dompu dari mereka yang ada di kota ini, Jakarta. Tak sedikit pula yang mengajak saya untuk menetap di tempat ini dengan alasan mudah ditemui. Tapi apa?

Saat saya sekota dengan mereka di sini, di Jakarta, bertemu pun hanya kata, yang hanya terlempar tapi tak tercapai. Jika bertemu pun hanya sebentar. Itupun setelah berjanji berhari-hari sebelumnya, dan lebih sering batal sekalipun saya yang datang menghampiri, yang membuat saya berpikir tidak ada bedanya dengan kondisi jika saya ada di Dompu. Membuat saya merasa bahwa kata rindu hanyalah basa-basi semu.

Jadi, setelah basa-basi rindu untuk kesekian kalinya, malam itu saya menghibur diri dengan mengenyangkan perut di warung selera kuli Sego Iwak. Siapa yang butuh rasa, jika yang diinginkan perut hanyalah kenyang, bukan selera? Plus, saya sangat suka suasananya. Penuh dengan para pekerja otot yang dari mulutnya keluar hanya perkataan jujur dan apa adanya, umpatan sekalipun.

Oh, ngomong-ngomong, sego itu artinya nasi, sedangkan iwak itu lauk. Ini warung selera kuli emang jualannya nasi campur.

“Iwake opo ta mas?” Ujar mas penjualnya sambil menyendok nasi yang langsung menggunung di piring kaca biru tua, seraya melemparkan pandangannya ke lauk-lauk yang berjejer di lemari kaca.

Saya menghela napas dan menjawab pelan.

“Iiwake maybe.”

“Oi oi oi oi!” Sahutnya, yang diluar dugaan saya. Kemudian, sambil tertawa, ia melanjutkan. “Sing serius mas… Iwake opo?”

Sambil ikut tertawa, saya menjawab singkat.

“Tempe.”

Leave A Comment