Mardalan Au Marsada

Spread the love

Setiap kali saya datang mengajari teman saya, Indrawan Azhary Siregar XIII, saya merasa dia punya agenda tersembunyi. Sepertinya dia ingin ngonvert saya jadi orang Batak.

Atau mungkin dia memang lagi rindu sama kampungnya di bulan puasa ini. Maklum, dia Bataknya Mandailing. Batak yang marganya bisa ditelusuri sampai Toba, pake Ulos, ngomongnya Batak, tapi kalau ditanya Batak, jawabnya bukan.

Soalnya, kalau saya mampir, dia selalu muter sebuah lagu dari tanah tempatnya berasal, lagu yang jika diterjemahkan ke bahasa Indonesia artinya seperti ini.

“Langkah kakiku, sendiri, satu-satu.”
“Menghampiri sepi, maka bersedihlah hati.”
“Dan meneteslah air dari mata ini.”
“Memandang jalan yang tiada ujungnya.”

“Bagaikan sebatang buluh yang rebah, yang melambai oleh sang angin.”
“Bagaikan daunnya, yang gugur berjatuhan.”

“Tiuplah, tiuplah aku wahai angin.”
“Hingga sampai ke kampungnya, dari tempatku yang jauh.”

“Wahai… Jawablah aku…”
“Jawablah batin ini yang memanggilmu…”

“Yang memanggil-manggilmu…”

Dalam bahasa Batak, kata Dainang yang digunakan dalam lagu ini bisa diartikan dua. Jadi, lagu ini bisa ditujukan untuk ibu, atau untuk seorang wanita yang sangat dicintai dan disayangi, yang nilainya begitu tinggi, sehingga bahkan kamu memanggilnya dengan kata yang sama untuk menyebut ibu.

Apakah saya sudah cukup Batak sekarang?

Mardaaalan au, marsaaada-sada…

Leave A Comment