Empat Orang Yang Ke Pluit

Spread the love

“Seumur-umur tinggal di Jakarta, baru sekarang saya ke sini, Blek.” Kata ko Halim yang duduk di samping Boris, yang ngos-ngosan nyetir mobilnya Abel. Abel, yang ga pedulian sama kawannya yang terbiasa bawa mobil matic sehingga kesulitan nyetir mobilnya yang masih transisi manual, sibuk sama hapenya.

Demikianlah empat manusia, termasuk saya, menuju pelabuhan perikanan di Pluit dengan mobil putih milik Abel yang disopiri Boris menembus remang-remang pekat dan becek jalan kecil pelabuhan. Ko Halim dengan DSLR terkecil di dunianya, Boris dengan SLT keluaran mutakhirnya, Abel dengan full-frame dua puluh lima jutanya, dan saya dengan hape Android seken buatan Cina. Kesenjangan sosial yang bahkan terlalu miris untuk diceritakan. Rencananya, ko Halim dan Boris pengen belajar motret. Abel pun dengan semangat ngajak ke pelabuhan malam-malam karena katanya ada temannya yang tinggal dan bekerja di daerah itu.

Dan mobil dengan sopir yang setres itu masih muter-muter ga tentu arah nggak punya tujuan pasti.

“Terus aja dulu. Temen gue belon bales SMS.” Ujar Abel yang duduk dengan saya di belakang dengan nada datar, masih sibuk ngutak-ngatik hape.

“Lihat, ada mercusuar! Kita ke arah sana saja!” Celetuk ko Halim sambil menunjuk ke arah kanan di kejauhan, ke arah sebuah bangunan bermenara tinggi yang puncaknya nyala.

“Wah, bener pak bos! Di sampingnya mercusuar pasti banyak kapal!” Timpal Boris gembira seraya memacu mobil ke arah yang ditunjuk. Sepertinya tangannya sudah gatal pengen nekan tombol shutter kamera secara dia mulai bosen dan setres ngoper kopling dan ganti transmisi.

“Mercusuar dari mana njeeer!” Serunya jengkel, setelah mobil sampai di depan bangunan bercahaya yang rupanya adalah kubah menara Mesjid.

Leave A Comment