Ketupang Berkunjung Ke Jakarta

Spread the love

Demikianlah adanya. Dalam kunjungannya ke Jakarta, Yang Mulia Ketua Kaipang Amrin Zulkarnain ingin merasakan hal-hal yang tidak pernah ditemuinya di Bumi Gogo Rancah, yang setiap jengkal tanahnya adalah markas Kaipang, Nusa Tenggara Barat.

Itulah yang disebut Busway, Kopaja, Macet, dan Rush Hour.

Jadilah saya merancang rute perjalanan kami, dari Kampung Bali, naik Busway kemudian menembus lautan manusia di Blok M, ngejer Kopaja ke ke arah Sarinah, terus jalan kaki buat naik kereta dari stasiun Tanah Abang jam orang-orang pada pulang kantor.

Bisa dirasakan jelas, tatapan jengkel dan aneh orang-orang yang kami temui, karena muka Ketupang terlihat jelas bahagia sendirian diantara lautan manusia bermuka masam. Ketupang yang di masa mudanya adalah anggota Palasma, Pecinta Alam SMU Negeri Satu Mataram, merasa telah menemukan gunung baru yang belum pernah didakinya.

Satu-satunya kesalahan saya adalah melupakan bahwa tas yang harus saya panggul bukanlah carrier yang enak nemplok di punggung melainkan koper jinjing gede yang isinya… Errr… Logistik kami. Kalau kamu mau tahu bagaimana penampilan saya kemarin, bayangkan saja mas-mas yang jualan baju keliling manggul tas ukuran setengah meter di punggungnya.

“Pak, kita ini yang ngurusin Linorid, loh. Sebenarnya buat apa sih, kita begini?” Tanya saya saat jalan kaki menuju stasiun kereta Tanah Abang. Mendengar pertanyaan saya, Ketupang tersenyum simpul.

“Inilah perjuangan.” Sahutnya, ditengah sengalan napas yang capek tapi bahagia.

Dan sesampainya di depan tangga jembatan penyebrangan terakhir yang harus kami daki untuk sampai di stasiun Tanah Abang, saya berhenti, memandang ke jejeran tangga itu. Saya kemudian menoleh ke arah Ketupang.

“Silak bejuluk, Miq.” Ujar saya mempersilahkan Ketupang untuk naik duluan.

“Summit attack!”

Sesungguhnya tidaklah mengherankan jika seorang anggota KPLI memberikan penghormatan dengan mencium tangan ketuanya saat mengantarkannya ke pintu saat ia akan kembali ke tanah Nusa Tenggara Barat dengan pesawat, karena ketuanya membeli asuransi kecelakaan tambahan yang hak warisnya diberikan untuk GNU Foundation.

Leave A Comment