Dulu, Di Jogja

Spread the love

Motor C70 ini merangkak perlahan, mulai mendaki barisan bukit, gunung, dataran tinggi yang membentang sepanjang jalur tengah menuju tanah Parahyangan, keluar dari Jawa Tengah.

Keluar dari Jogja.

Setiap orang yang pernah singgah di Jogja, tentu punya cerita. Seperti Ketupang, yang sedari awal emang ngebet lewat Jogja cuma buat ngeliat jalan Malioboro yang pernah dibacanya di novel karangan Gola Gong. Balada Si Roy.

Saya juga punya. Jogja adalah pemberhentian terakhir saya, saat pertama kali saya motoran jarak jauh, sendirian.

Waktu itu, saya masih SMA. Darah sudah pasti lagi gahar-gaharnya. Motor? Jangan ditanya. Kalau kamu pernah lihat yang namanya Rat Bike, motor saya waktu itu kelasnya Zombie Apocalypse. Mocin tipe supra tambal spare part sana sini, telanjang rangka doang, ditunggangi anak dengan seragam putih abu yang robek sana-sini. Kaos tengkorak gigit ular ngintip dari balik seragam yang nggak dikancing. Itulah saya, anak SMA paling brengsek yang bisa kamu kenal. Sangar, kan?

Makanya saya bersyukur, teman-teman saya waktu SMA seperti Dayat, Andre, dan Mas Herry dulu, yang biasa manggil saya Xiu Peng, nggak tau kalau nama itu artinya Teman Kecil. Unyu-unyu banget, yah?

Kalau ngingat penampilan saya waktu itu, jangankan kamu. Saya aja najis tralala.

Jadi, sesampainya saya di Jogja dengan motor saya waktu itu, saya mutusin buat nongkrong geje di pinggir lapangan tempat dua pohon Beringin. Sendirian, dan nggak punya kenalan. Merokok santailah saya memandang lapangan, menikmati pencapaian yang saat itu saya anggap luar biasa. Hebat sekali bisa sendirian sampai Jogja, pikir saya waktu itu sambil manjangin idung.

Tiba-tiba, seorang bapak berpakaian PNS menepuk pundak saya.

“Adik sendirian? Datang dari mana?” Sapanya seraya tersenyum.

“Iya pak, sendirian.” Jawab saya, kemudian menceritakan perjalanan saya. Dia kemudian duduk, dan saya menawarinya rokok. Kami berdua nongkrong cukup lama di depan lapangan pohon Beringin itu.

“Bapak kerja di situ?” Tanya saya seraya menunjuk bangunan keraton di belakang kami.

“Iya. Tinggal di situ juga sekalian. Hehehe…” Jawabnya sambil tertawa khas orang Jawa Tengah, yang di setiap he-nya ada liukan aneh sehalus sutra.

Oh, bapak ini penjaga cagar budaya rupanya, pikir saya.

“Mau saya ajak lihat-lihat ke dalam?” Tawarnya.

Tentu sebagai bocah belagu tapi sebenarnya bokek tudemaks, saya mengangguk senang. Maka diantarlah saya oleh bapak itu, melihat-lihat. Dia paham betul setiap kisi-kisi yang ada di Keraton. Terpelajar sekali orangnya. Saya yakin, kalaupun ada ukiran di pintu WC Keraton, hanya beliaulah yang mampu menjelaskan makna dan sejarah dibaliknya.

Setelah berkeliling dengan jumawa bersamanya, bapak yang baik itu mengantar saya kembali ke tempat saya markir motor.

“Saya masuk dulu.” Pamitnya. “Mau lanjut kerja.”

Saya menjabat tangannya dengan penuh terima kasih, dan melambaikan tangan saat dia menghilang ke gerbang. Saya lanjut nongkrong, mikir, mau nginep di pom bensin luar kota sebelah selatan atau utara.

Baru selang beberapa menit, dua orang berpakaian adat Jawa menghampiri saya. Dengan nada yang kelewat lemah lembut, mereka menanyakan ke saya, kemana perginya bapak yang sedari tadi bersama saya.

“Oooh, nggih pak.” Tutur saya sok-sok logat Jawa KW5. “Bapak penjaganya udah balik masuk barusan.”

Bapak berpakaian adat yang lebih tinggi, memandang aneh ke temannya. Temannya yang sedikit lebih pendek menatap balik dengan tatapan yang sama. Kemudian, sambil tersenyum, dia berujar.

“Dik, yang tadi itu ndoro Sultan…”

Terima kasih, Jogja!

Leave A Comment