Kamu, Cilok,Dan Pelangi

Spread the love

Kamu mungkin mengenalnya sebagai Cilok. Di Dompu namanya Salome. Yang lain mengenalnya sebagai bakso tusuk. Apapun namanya, karena wisata kuliner terlalu mainstream plus duit saya cekak, cukuplah saya wisata Cilok saja.

Maka demi melihat gerobak Cilok yang parkir depan bangunan dengan dominasi warna hijau pupus itu, saya segera banting stang ke arah kiri, lari turun, dan membawa kembali sebungkus lima ribu Cilok ke motor, yang ditunggui Yang Mulia Ketua Kaipang Amrin Zulkarnain.

“Ini bukannya pesantren Gontor yang terkenal itu?” Ujar Ketupang.

“Iya pak.” Sahut saya dengan nada bodo amat sambil ngunyah cilok. “Gontor Putri. Noh namanya ada.”

Mendadak hujan turun, dan kami memutuskan untuk numpang berteduh di pangkalan ojek yang juga didominasi warna hijau pupus, di seberang jalan. Tepat di seberang Gontor.

Cilok habis. Saya membakar rokok, sementara Ketupang melongo mandangin aula bertuliskan Gontor Putri di seberang jalan. Entah apa di pikiran Ketupang, tapi raut wajahnya jadi mellow-mellow lolipop sekali.

Saya kemudian melemparkan pandangan ke arah kiri gedung, kiri atas, ke arah langit, dan tersenyum.

“Memang romantis benar, pak Ketupang. Lihat itu.” Ujar saya sembari menunjuk ke atas atap pesantren terkenal itu.

“Ada pelangi di Gontor Putri…”

Leave A Comment