Roti Maryam Yang Habis

Spread the love

Kamu bisa mengaitkan kata Arab dengan jenggot, surban, gamis, gambus, hadrah, dan semua hal yang berbau padang pasir lainnya, tapi itu semua ilusi. Itu menandakan kamu cemen. Biar saya bilang ke kamu, yang identik dengan kata Arab itu Roti Maryam.

Dan makan Roti Maryam, kalau bisa gratis, saat duitmu tinggal dua lembar merah padahal kamu masih harus naik motor beratus-ratus kilo untuk sampai di Jakarta itu tentulah keindahan yang tiada tara.

Jadi, setengah jam sebelum nyampe di Surabaya, saya menelpon Boe, satu-satunya keturunan Yahudi expatriat dari Dompu yang saya kenal dan tinggal di kota itu. Yoa, Yahudi itu Arab. Sama kayak Yaman, Saudi, dan kawan-kawannya. Janganlah merasa aneh kalau merek kendaraannya Nabi Musa itu Onta.

“Oe Boe, shalom aleikhim. Lembo ade mu.” Ucap saya di telpon dalam bahasa Dompu campur Ibrani ngapak. “Saya bentar lagi nyampe nih. Sudah ada roti ibunya Yesus?”

“Ala lengae, sudah tujuh penjual yang saya datangi, habis semua. Kamu mau kebab?” Jawabnya dengan nada menyesal.

Menyesal yang ga guna, soalnya saya udah bilang sejak sehari sebelumnya kalau saya bakalan lewat Surabaya. Mbok ya kowe nyetok dulu, cok.

“Kebab? Yang bener saja itu! Saya dari kemarin belum makan, dan makan kali ini, saya maunya makanan khas Surabaya! Kamu tahu apa? Roti Maryam!” Teriak saya di telpon, karena Lontong Balap terlalu mainstream.

“De ando loa ku ba nahu…? Mau bagaimana lagi…?” Kata Boe. “Eh, tapi saya sudah belikan kamu makanan khas sini juga. Nasi Padang. Hehehehe…”

Ini sebenarnya saya lagi di mana, sih?

Leave A Comment