Bahasa Yang Kamu Kuasai

Spread the love

“Oke bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik sekalian. Jadi, seperti tema pelatihan kita ini, kita akan meningkatkan pendapatan usaha dengan bahasa.” Ucap saya membuka sesi pelatihan di balai desa daerah Huu yang penuh dengan manusia beragam usia. Mayoritas usianya saya lihat sepantaran saya, yang datang dengan pasangan masing-masing. Merekalah para entrepenur mikro, sebutan kantor saya untuk membuat pedagang-pedagang lapak pinggir pantai Lakei agar terdengar keren.

“Kenalan dulu lah, bang!” Teriak salah seorang peserta laki-laki yang duduk di pojok sambil menghisap rokok. Di tangannya terlihat sangar tatto jangkar kapal.

Popeye ita re?

“Oh iya, betul. Maaf, maaf. Baik, saya dari Diskoperindagtamben Kabupaten Dompu, divisi pemberdayaan usaha kecil dan menengah. Nama saya Farhan Perdana…”

Ngomong-ngomong, saya selalu merasa bahagia nggak jelas setiap mengatakan kalimat itu, walau acaranya nggak ada hubungannya sama kantor saya. Di acara kawinan orang sekalipun.

“…tapi kalian bisa panggil saya Sayang.” Sambung saya, disambut tepukan tangan dan suara suit-suit yang mengiringi gemuruh tawa orang-orang di balai desa.

“Jadi, bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik…” Saya melanjutkan, “untuk meningkatkan pendapatan, hendaknya kita bisa memperbaiki penulisan menu atau barang dagangan apapun yang menggunakan bahasa asing. Ini menambah prestise, menambah gaya lah istilahnya. Otomatis, nilai barang dagangan jadi naik di mata calon pembeli. Nggak terkesan kampungan.”

“Maksudnya, bapak?” Ujar pemuda tanggung yang berada di tengah sambil mempermainkan pulpen di tangannya.

“Misalnya begini.” Ucap saya sambil mengeluarkan spidol, dan berjalan ke papan tulis. “Ini contoh aja, ya. Kalau menu kita Kacang, itu bahasa Inggrisnya kan Peanuts… Nah, kalau kita nulis di daftar menunya P-E-N-I-T-S, yang salah baca ntar nyangka kita Illuminati.”

Hadirin riuh bertepuk tangan.

“Saya paham, bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik semuanya karena biasa bergaul dengan wisatawan asing yang datang ke sini, pasti bisa ngomong banyak bahasa asing. Cuma ya, nulisnya yang masih kurang. Ya nggak?” Lanjut saya. Hadirin kemudian saling bisik-bisik sambil manggut-manggut.

“Coba, di sini bisa ngomong bahasa apa aja? Inggris? Jepang? Bahasa apa lagi?” Tanya saya memancing, menyebut nama negara asal turis-turis yang sering ke Dompu.

“Nah, yang di sana! Selain bahasa Indonesia dan bahasa Dompu, bahasa apa lagi yang paling kamu kuasai, dik?” Ujar saya sambil menunjuk seorang ibu muda yang tengah menggendong anak di samping suaminya yang sedari tadi merangkul dia dengan mesra. Muda banget, pikir saya. Saya lihat, umurnya nggak lebih dari 19. Gerak-gerik mereka sedari tadi membuat sedikit rasa gatel muncul di hati saya. Sedikit ya, nggak banyak.

Entah dia yang awet muda, atau saya yang kelewat kadaluarsa.

Ibu muda itu menatap saya, suaminya juga menatap saya, begitu pula dengan bayi di gendongannya yang entah kenapa ikut-ikutan menatap saya. Tiga manusia, satu keluarga, tengah menatap saya.

Kemudian, sembari tersenyum malu-malu mengelus kepala buah hati mereka, ibu muda itu menjawab singkat.

“Bahasa kalbu, Sayang…”

Hadirin kembali riuh bertepuk tangan.

Leave A Comment