Demam Batu Akik Di Dompu

Spread the love

Semenjak demam batu akik melanda, hampir seluruh Dompu sekarang memiliki profesi sebagai pengasah batu. Di kelurahan Bada, misalnya. Dengan daya kreatifitas orang-orangnya yang kelewat tinggi, semua benda yang bisa muter dijadikan alat buat ngasah batu.

Bukan gerinda saja. Mesin pompa air listrik, mesin sepeda motor, sampai mesin jahit yang digerakin pake kaki itu, telah meninggalkan kehidupan lamanya dan berganti takdir menjadi mesin pengasah batu.

Yoa, di Dompu, batu akik sudah kelewat mainstream, sehingga dirasa perlu ada regulasinya oleh negara.

Begitulah takdir bagi kantor saya, Diskoperindagtamben kabupaten Dompu. Dinas Koperasi, Perindustrian, Perdagangan, Pertambangan dan Pemberdayaan Energi. Dari namanya saja, terlihat bahwa kantor saya dibawahi langsung oleh empat kementrian. Pekerjaan kami sebagai pegawainya tidak pernah jauh dari batu akik akhir-akhir ini.

Mereka yang di Pertambangan dan Energi ngurusin kegiatan nambang batu akik. Yang Perdagangan tentang harga kerajinan batu akik. Yang Perindustrian tentang cara ngasah batu akik. Yang Koperasi? Ya ngurusin orang-orang usaha kecil dan menengah yang sekarang semuanya banting setir jadi perajin batu akik.

Nah, yang terakhir itulah bidang penempatan saya.

Saking pentingnya regulasi batu akik ini bagi negara, para abdi negara di kantor ini sekarang diwajibkan untuk benar-benar paham seluk-beluk batu akik. Giok? Itu Jade. Kecubung? Itu Amethyst. Nagasui? Bulu Macan? Pancawarna? Kamu bisa sebutkan apapun nama lokal untuk batu permata yang ada di tanganmu, dan kami harus benar-benar tahu nama resminya, nama standar internasionalnya, apaan.

Semisal ternyata yang di tanganmu itu batu yang kamu sebut Kalimaya, saya harus tau kalau itu sebenarnya Opal dengan kandungan air 3% sampai 21% beratnya, kategorinya Mineraloid, dan merupakan Hydrated silica alias SiO2·nH2O.

Percayalah, kalau kamu mau nyari pakar penilik dan penakar batu akik yang paten serta terpelajar di kabupaten ini, kamu bisa menemukannya di Diskoperindagtamben. You may call us The Gemstone Connoisseurs of Dompu indeed.

Semua ini tidak terlepas dari buku panduan, yang tebelnya naujubile itu, di kantor kami. Di bidang tempat saya bekerja, kami bahkan punya program Satu Batu Satu Hari. Setiap pagi, satu batu akan dibahas secara lengkap sebelum mulai bekerja.

Kamu sedikit banyak tentu tahu bagaimana jadi Abdi Negara. Berseragam dan upacara bendera setiap senin. Dengan ditambah adanya pelajaran batu tiap hari seperti sekarang, saya merasakan suasana masa-masa SMA yang tidak pernah usai. Kamu bisa menyebutnya forever seventeen atau apalah. Tapi, terus terang, semua ini membuat saya benar-benar jadi setres setiap ngeliat batu akik.

“Hoahm… Jadi, batu hari ini adalah Safir Air alias Blue Spinel alias Kanchanaburi.” Ujar kepala seksi saya, Pak Syamsuddin, pagi itu, sembari membuka buku. Sepertinya dia juga mulai eneg sama batu.

“Safir Air adalah kristal Cordierite yang secara gemologis disebut Iolite dan merupakan batuan polimorph yang blablablablabla karena itulah mitosnya bersifat dingin.” Bacanya di tengah kami, para bawahannya yang hanya diam mendengar sang ketua kela… Eh, kepala seksi memberikan pelajaran wajib.

Pak Syam menutup buku panduan kemudian melemparkan pandangan ke seisi ruangan.

“Oke, jadi untuk tahu cincin akik yang kalian periksa itu Safir Air atau bukan, kalian bakar cincin itu sampai merah membara. Kemudian…” Pak Syam terdiam sesaat.

“Kemudian apa, pak?” Tanya saya setengah menguap.

Dengan nada yang bosan, dia melanjutkan.

“Kemudian kalian pasang ke jari kalian. Kalau rasanya dingin, berarti asli.”

Leave A Comment