Perjalanan Sebuah Perpustakaan

Spread the love

Seorang teman saya, mendadak minta cerita tentang akhir perang salib. Entah ada apa gerangan seumur kenal dia tiba-tiba dia tertarik. Baiklah, Adrian Jibz Martinus. Saya tuliskan untuk memenuhi permintaanmu kalau begitu. Apa sih, yang nggak buat kamu…? ~ <3

Ciyeee ciyeee… Yang blushing… Mati aja lu.

Cerita tentang sebuah perpustakaan besar yang menampung semua warisan awal peradaban manusia. Perpustakaan Kuno Iskandariah.

Tunggu! Apa hubungannya perang salib sama The Ancient Library of Alexandria? Sabar, bacalah terus.

Perpustakaan ini didirikan oleh Ptolemaios I Soter, jenderalnya Iskandar Agung yang menguasai mesir pada tahun 323 sampai 238 sebelum masehi. Begitu berkuasanya dia, sampai-sampai dia, yang orang Yunani itu, bisa ngelobi supaya dia jadi Firaun. Sebenarnya, tidak ada buku di perpustakaan itu. Yang ada adalah gulungan papirus yang dikerat. Tapi, yah, buku adalah buku. Apapun bentuknya. Hanya cara membacanya yang beda.

Nah, karena megahnya kerajaan kuno Iskandariah, perpustakaan ini mengoleksi hampir semua pengetahuan yang ada di dunia waktu itu. Tiap hari, gulungan papirus yang baru ditambahkan. Rahasia apapun, legenda apapun, kebudayaan apapun, yang ada di zaman itu pasti memiliki rekaman di Perpustakaan Kuno Iskandariah. Termasuk berkas-berkas peradaban Roma. Peradaban Eropa.

Ini semua dikarenakan waktu itu, Cleopatra, yoa, Cleopatra yang cantiknya aduhay bujubuset itu, ngomong kayak gini di media sosial sekitar 300 tahun setelah perpustakaan itu berdiri.

"Hai tweeps. Aku tuch sukanya cowok nggak penting fisik. Yang suka baca malah bikin aku meleleh…"

Dan demi mengetahui itu, Marcus Antonius, politikus sekaligus jendral besar Roma menambahkan bejibun buku dari negaranya ke perpustakaan Iskandariah. Jadilah dia bisa mempersunting Cleopatra.

Selama sejarah, beberapa kali Perpustakaan Kuno Iskandariah terbakar. Untungnya, saat itu koleksinya adalah koleksi yang umum. Belum menjadi barang langka. Dengan mudah, papirus duplikat bisa dicari gantinya selama catatan mengenai buku itu ada di daftar pustaka.

Tapi tidak demikian di Eropa. Setelah Gereja Katolik Roma berkuasa, semua buku yang tidak sejalan dengan pandangan gereja diberangus.

Diberangus ya, bukan dibakar. Gereja Katolik dulu nggak suka bakar-bakar buku. Yang bakar-bakar itu kaisar I-Ching di Tiongkok sana. Buku-buku itu dikumpulkan, disembunyikan, dan diharamkan untuk dibaca. Yah, efeknya sih sama dengan dibakar, soalnya itu buku kalau cuma ditumpuk di gudang jadi lapuk lah. Di bawah kekuasaan Gereja Katolik di seantero Eropa, Eropa mengalami masa-masa kegelapan. The Dark Ages istilahnya.

Kemudian, pada tahun 642 masehi, Iskandariah ditaklukkan oleh pasukan Islam pimpinan Amir Bin Al-Aas atas perintah kalifah Umar Bin Khatab. Pada zaman kalifah Umarlah Islam menguasai seantero zazirah Asia tengah, masuk ke Eropa, hingga Afrika.

Dahsyat? Hei, ini Umar Bin Khatab. Kamu yang pernah main game Counter Strike pasti tahu pistol putih paling maut di game itu, Desert Eagle. Nah, Umar Bin Khatab ini levelnya bom nuklir. Itulah mengapa dia dijuluki Desert Lion. Singa Padang Pasir.

Saat pasukan Islam menguasai Iskandariah, Perpustakaan Kuno Iskandariah dihancurkan. Bagaimana dengan buku-bukunya? Menurut teolog Kristen abad ke 13, Gregory Bar Hebraeus, Kalifah Umar merintahin supaya buku-buku itu dihancurkan. Gosipnya sampai kertas-kertasnya dipake buat manasin pemandian air panas.

Tapi santai saja. Umar Bin Khatab dijuluki Singa Padang Pasir bukan karena perawakannya yang besar dan suaranya yang membahana saja. Kekuasaan melebar hingga sampai ke Afrika dan Eropa bukanlah karena otot semata. Kamu harus cerdas, pintar, dan menghargai pengetahuan. Dan begitulah, di tahun 600-an, abad ke 7 itu, Islam mengalami masa-masa keemasan karena kalifahnya, kamu bisa anggap kaisarnya, sangat menghargai pengetahuan. Kalifah-kalifah Islam itu ngumpulin tulisan dari berbagai penjuru, bukan ngebakar. Puncaknya adalah saat yang menjabat sebagai kalifah adalah Harun Al-Rasyid. Harun Al-Rasyid bahkan mendirikan Bait Al-Hikmah, tempat semua pelajar, peneliti, ilmuwan, siapapun yang suka akan ilmu pengetahuan, berkumpul untuk membahas dan menuliskan buah pikiran mereka. Yoa, isi Perpustakaan Kuno Aleksandria ditambahkan ke perpustakaan-perpustakaan Islam.

Tunggu. Sekumpulan orang yang pake gamis, surban, berjenggot, dan teriak-teriak adalah orang-orang yang menghargai pengetahuan? Nggak salah? Tentu tidak. Itulah yang terjadi kalo kamu kebanyakan nonton TV.

Begini, dalam kebudayaan Islam zaman itu, amat sangat tidak bisa ditolerir oleh masyarakatnya kalau kamu tidak berpengetahuan. Ayat pertama yang turun bagi nabi mereka adalah 'Baca.'

Bahkan, saat solat saja, mereka wajib menghadap kiblat. Apa itu kiblat? Kabah di Mekah. Solat menghadaplah ke barat, tapi ke Mekahnya, bukan ke baratnya. Itulah mengapa kalau kamu ngeliat orang solat, sejadah mereka itu mencong-mencong nggak saklek ke barat. Jadi, minimal, anak kecil di zaman itu harus bisa ngelihat bintang untuk nentuin dia sujud ngadap ke mana lima kali sehari. Untuk tau itu saja, kamu perlu tiga disiplin ilmu. Perbintangan, geografi, dan pemetaan.

Kebudayaan Islam adalah kebudayaan yang setengah skeptis. Kebudayaan yang terang-terangan mengatakan sihir hanyalah tipuan mata. Percayai hanya perkataan Allah. Sisanya? Pertanyakan dan buktikan, baru percayai. Nemu masalah yang nggak ada penjelasannya di ucapan-ucapan Allah yang dibukukan itu? Kedepankan unsur logis. Mereka menyebutnya Ijtihad.

Nah, kalau ada temen kamu yang ngaku Islam tapi nggak ngerti Teorama Pitagoras, coba tampar dia.

Jadi, saat Eropa ratusan tahun gelap-gelapan oleh Dark Ages, kota-kota yang dikuasai Islam sedang jaya-jayanya. Bagaimana dengan orang Yahudi dan Kristen di daerah-daerah kekuasaan Islam itu? Oh, kalifah memberikan mereka, yang dikenal dalam Islam sebagai Ahlul Kitab, The People of The Book ini, kebebasan yang berpatokan pada ayat dalam Al-Quran yang berbunyi 'Bagimu agamamu, bagiku agamaku.'

Sayangnya, orang-orang Kristen di negara-negara yang diduduki Islam ini adalah Kristen Koptik. Itulah mengapa pada tahun 1095 masehi, Paus Urban II berhasil mengajak raja-raja seantero Eropa untuk menyerbu Yerusalem. Alasannya adalah membuat akses Katolik Roma ke tempat-tempat suci di Eropa lebih mudah, plus bisa didirikan gereja dan kerajaan latin di sana, daerah timur. Siapa yang harus dihadapi untuk merebut Yerusalem? Itu loh, barbar-barbar tidak terpelajar bernama Saracen itu.

Saracen, adalah sebutan umum di Eropa zaman itu untuk menyebut Islam. Mereka mudah diidentifikasi dengan warna kulitnya yang lebih gelap. Gosipnya, sehari-hari kerjaan mereka gaul bareng onta.

Anu, sebenernya, orang Eropa sama orang Arab itu sama-sama orang kaukasoid. Tapi gini loh men, nggak mungkin kamu bisa putih kalau kamu tinggalnya di padang pasir. Kamu dipanggang matahari tiap hari. Tinggal di Indonesia aja mustahil kamu bisa putih, apalagi di semenanjug Arab sana. Yah, kecuali kamu ngurung di kamar terus tiap hari. Ini sesuatu yang lumrah diketahui sekarang, tapi mau gimana lagi, namanya Eropa lagi zaman kegelapan.

Begitulah, perang salib terjadi. Tidak tanggung-tanggung, penyerangan ke Palestina sampai empat kali. Tahun 1204, adalah puncak kemenangan para Tentara Salib. Mereka berhasil merebut Konstantinopel, Istanbul, Turki, yang dikuasai Kekaisaran Ottoman, dan… Membakar habis The Imperial Library of Constantinopel. Perpustakaan raksasa terakhir milik dunia lama. Semuanya jadi arang, termasuk isinya.

Lalu bagaimana dengan nasib tulisan-tulisan dari Perpustakaan Kuno Iskandariah, The Ancient Library of Alexandria?

Tenang, orang-orang Arab sudah dididik oleh kebudayaan Islam tentang dua hal. Pembukuan, dan penghafalan. Duplikat otentik tulisan-tulisan kuno itu tersebar di masyarakatnya, baik tulisan maupun hafalan. Hei, bocah-bocah mereka bahkan menghafal satu buku berisi 30 juz, 114 surat, dan 6666 ayat… Eh, 6236 ayat, bernama Al-Quran, hanya untuk alasan sepele yaitu mencegah terjadinya kesalahan duplikat. Saat para petingginya sibuk ngomongin kekuasaan, prajurit-prajurit mereka berinteraksi satu sama lain dengan masyarakat, bertukar pengetahuan dan sejarah.

Tentara Salib akhirnya pulang kembali ke Eropa setelah kalah dari pasukan Islam di Akka, Siege Of Acre, tahun 1291 masehi. Rugikah mereka? Tidak.

Karena mereka pulang dengan membawa dua hal yang berharga. Ilmu pengetahuan yang dikumpulkan oleh kalifah-kalifah Islam selama zaman emas kejayaan ilmu pengetahuan timur, dan satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya. Warisan sejarah mereka yang beratus-ratus tahun telah dianggap hilang karena jaman kegelapan, yang diabadikan oleh sebuah perpustakaan.

Perpustakaan yang bernama The Ancient Library of Alexandria.

Oh, dan kamu-kamu, yea, kamu. Jomblo yang lagi ngikut baca tulisan rekwesannya Jiban ini. Dengar. Kalau kamu cowok kutu buku, jangan harap status jomblo kamu bisa gampang ilang sampai Cleopatra lahir kembali.

Leave A Comment