Survival Of The Fittest

Spread the love

Jadi, di tengah gegap gempita event Tambora Menyapa Dunia, dua orang hanya bisa duduk cengo di kantor. Satu dikarenakan tidak mendapat Surat Perintah Perjalanan Dinas, satunya lagi dikarenakan kaki patah yang masih dalam masa penyembuhan. Kamu bisa tebak yang nggak dapat SPPD itu, namanya Farhan Perdana. Yang menemani saya adalah Rafi. Rafiuddin S.E. nama panjangnya, lengkap dengan gelar. Meski badannya kecil mungil, dia adalah instruktur Tae Kwon Do. Mungkin itulah mengapa dia lebih suka memperkenalkan diri dengan namanya yang lain, Arnold Swaseneger Swasana Swegar Pagi-pagi.

Kami menghabiskan waktu cengo, dengan cengo natap ke TV kabel yang nayangin program orang yang survival di alam liar. Mencoba bertahan hidup di alam liar, tanpa bekal dan alat. Hanya mengandalkan keterampilan dan alam.

“Saya kalau pergi ke gunung juga paling suka ngesurvival begitu.” Kata Rafi jumawa, membuka pembicaraan.

“Cuh.” Ujar saya melecehkan. “Saya, dari mulai rangkaian acara Tambora Menyapa Dunia ini, saking kosongnya ini kantong, survival tiap hari di kantor.”

Dia tertawa. Saya juga.

“Eh, saya serius. Ini kalau nggak manjat kelapa, ya ngelempar burung di pohon buat makan. Kurang survival apa, coba.” Sambung saya meyakinkan.

Dan setelah itu, kami terdiam. Rafi ngelanjutin ngenet di hapenya, sementara saya menatap kosong ke layar yang pembawa acaranya lagi ngejer-ngejer hiu sambil bawa tombak buat menu makan malam, kemudian gagal, dan akhirnya mungutin keong laut. Tragis sekali nasib pembawa acara di TV itu.

“Lapar…” Akhirnya saya buka mulut.

“Oke. saya juga.” Jawab Rafi singkat, kemudian menyambung cepat, “kita survival.”

“Sip. Saya cari Melo dulu, minjam parang.” Ujar saya. Pikiran saya tidak lain dan tidak bukan, adalah metik kelapa di halaman kantor.

Belum sempat saya bangkit dari tempat duduk, teman saya itu merentangkan tangannya di depan saya. Menahan. Saya yang bingung, menoleh ke arahnya.

“Jangan dulu. Tunggu lima menit lagi.” Ujarnya dengan gaya yang keren, yang entah asli entah dibuat-buat.

Lima menit kemudian, seseorang datang dengan sepeda motor dan menyerahkan bungkusan plastik.

“Ini survival ala Arnold Swaseneger Swasana Swegar Pagi-pagi, hahahaha…!” Katanya, sembari membuka bungkusan yang berisi nasi Padang dengan lauk Rendang.

Leave A Comment