Febi

Spread the love

“Hei, kita sekarang sudah punya kucing lagi, loh!” Ucap ibu saya dengan gembira, malam saat saya pulang ke rumah tengah malam, bulan Februari kemarin. Itulah asal muasal dia dinamakan Febi oleh ibu saya. Kucing betina yang berwarna hitam putih, berekor panjang, dengan usia yang kira-kira masih remaja untuk ukuran manusia.

Ibu saya bilang, dia datang ke rumah, kemudian ngekorin ibu saya terus. Setelah seharian ngelakuin itu, sepertinya sekarang dia sudah diangkat jadi anak oleh keluarga saya.

Sepertinya ada semacam kutukan di keluarga saya. Siapa saja yang menghabiskan malamnya di rumah saya memiliki kemungkinan 50% untuk diangkat jadi anak. Jadilah kalau dihitung-hitung, saudara angkat saya dulu ada enam, sementara saudara kandung saya cuma 2. Saya serius, sangat gampang orang tua saya ngangkat anak. Bagi saya, itu adalah masalah.

Misalkan pernah suatu ketika, seorang teman saya dari luar daerah menginap sehari di rumah. Malamnya, saat ngobrol di beranda rumah, bapak saya ngomong dengan enteng ke teman saya itu.

“Ooh? Nyari tanah buat bangun rumah di Dompu? Kalau nanti nggak dapat, tenang aja. Kamu sudah dianggap anak sendiri di sini. Nah, si Farhan kan punya tanah, tuh. Pake aja setengahnya.”

Saya yang kaget mendengar hal itu menatap bapak saya dengan ekspresi jrit-how-could-you-treat-my-very-own-property-like-it-is-yours-dad!

Bapak saya membalasnya dengan tatapan maaf-nak-bapakmu-ini-kan-rabun-dekat-dan-lagi-ga-pake-kacamata-jadi-nggak-bisa-ngelihat-jelas-ekspresimu.

Buset banget kan.

Dan hal yang sama berlaku dengan kasus si Febi ini. Betul, Febi tidurnya di luar, di belakang, di kolong meja. Tau apa yang jadi alas tidurnya? Kain tenun yang biasanya dipake ibu saya buat pasangan Kebaya Encimnya yang hanya dipake kalau pergi kondangan. Betul, Febi makannya di lantai. Tapi ibu saya membelikannya ikan chiro di pasar. Bahasa Dompunya ikan sarden. Ibu saya kemudian memasak ikan itu dan menaruhnya di kulkas, khusus buat makanannya si Febi.

Lihat? Dia beneran diangkat jadi anak! Gampang banget diangkat jadi anak di keluarga saya…

Nah, berhubung nasi sudah jadi bubur, saya memutuskan untuk mengintai kelakuan si anak angkat baru ini.

Saat ibu saya ke pasar, diantar dengan sepeda motor oleh bapak saya, si Febi akan berlari-lari kecil mengantar mereka sampai ke pintu gerbang depan rumah. Sampai di sana, dia akan duduk, ibu saya keluar dan menutup gerbang, naik ke boncengan sepeda motor, dan berkata, “Febi, masuk, nak.”

“Myaaa!” Febi akan menjawab seperti itu, kemudian berlari-lari kecil lagi, kali ini kembali ke belakang rumah, ke kolong meja.

Saat mereka pulang dari pasar, Febi akan menyambut lagi di gerbang depan, kemudian berlari-lari kecil lagi mengikuti mereka yang masuk ke pintu belakang rumah, sambil berseru “myaaa! Myaaa!”

Saat ibu saya ngurusin ikan dan sayuran yang baru saja dibelinya di dapur sembari ngobrol dengan bapak saya yang duduk di luar dapur, tentang politik atau apapun yang mereka tonton semalam. Febi juga ada di sana. Dia tidak berusaha untuk ngendus atau makan potongan ikan atau apapun yang dibersihkan itu. Dia hanya duduk di samping ibu saya. Sesekali, ditengah obrolan itu, terdengar suara “myaaa!” Seolah-olah dia ikut ngobrol.

Sorenya, ibu saya akan menghabiskan waktu merawat segala macam bonsai yang ditanamnya di depan rumah. Febi mengikutinya ke depan, dan sementara ibu saya ngurusin puluhan pot tanaman anehnya, si Febi menemaninya sambil main-main gelindingin batu-batu kecil yang merupakan bagian dari taman di halaman rumah saya.
Saya jadi geleng-geleng melihat kelakuan si Febi ini. Jadi, sambil menulis ini tadi, saya nanya ke Febi yang lagi duduk nyante di lantai pojokan dekat pintu.

“Febi, sebenarnya kamu ini kucing atau anjing sih?”

Dia memandang saya, memiringkan kepalanya, terdiam sesaat, kemudian menjawab singkat.

“Myaaa!”

Update: Febi kemudian meninggal beberapa bulan kemudian, mungkin karena makan ikan umpan yang diberi racun tikus milik tetangga. Selamat jalan, Febi…

Leave A Comment