Aitakatta Mengajarkannya

Spread the love

‘Insya Allah nanti dapat yang jauh lebih baik…’ Seperti itulah tulisan si cewek lewat cetingan fesbuknya dengan teman saya itu, yang memandang kosong ke layar hapenya.

“Itu kode. Kamu jawab saja ke dia, ‘Apakah kamu yang jauh lebih baik itu?’ terus klik send.” Celetuk saya cengengesan, yang dibalasnya dengan tatapan heran.

Jomblo pemegang rekor pemberi nasehat cinta terbanyak pastilah saya.

Seperti malam kemarin itu, saat teman saya yang tiba-tiba mencegat saya tengah malam dengan motor maticnya, saat saya melakukan rutinitas jalan ga jelas tengah malam. Nyari bintang, yang tentunya sia-sia saat Dompu sedang musim hujan seperti sekarang. Dia menawarkan rokok sebagai sajen ngomong. Jadi, saya ajak saja dia nongkrong di depan pengadilan agama.

Kamu mungkin akan berpikir, bagaimana mungkin bisa seseorang belajar baca kepada orang yang buta huruf? Bagaimana mungkin bertanya tentang cinta kepada seorang jomblo? Biar saya beri tahu kamu. Bagi saya, cinta adalah perasaan. Bukan hubungan.

Selepas diam, dia akhirnya berkata, “banyak yang saya pikirkan, Blek. Banyak.”

“Sudah, kalau kamu cinta, tembak saja.” Ujar saya lagi, meyakinkan dia, kemudian menambahkan, “kalau memang cinta, kamu nggak mikirin diri kamu.”

“Lha, kamu sendiri dulu bagaimana?” Balasnya, mengembalikan ucapan saya.

“Cewek yang saya sukai dulu, ditaksir sama teman saya. Saya nggak mau ada yang hancur. Saya memikirkan keduanya, cewek yang saya sukai itu, dan teman saya. Bukan diri saya. Itu kasus yang berbeda.” Balas saya. Berkelit, tepatnya.

“Itu cinta?” Dia heran.

“Ya, itu cinta. Saat kamu mencintai seseorang, kamu tidak ingin memiliki. Kamu ingin dimiliki. Kamu ingin berguna bagi yang kamu cintai. Lihat pejuang kemerdekaan, yang berani mati demi Indonesia. Saat dia mati, apakah dia memiliki negara ini? Tidak. Tapi, pejuang itu berpikir bahwa negara ini memilikinya. Itu cinta.”

“Tembak saja. Itu penjelasan ada lagunya, loh. Aitakatta. Kamu berharga, lebih dari siapapun. Walau kau tolak, tak akan kusesali.”

“Maksudnya?”

Saya menghisap dalam-dalam rokok pemberiannya, kemudian menghembuskannya. “Seperti yang sudah saya bilang, kalau cinta, kamu nggak mikirin diri kamu sendiri. Kalau kamu cinta, ditolakpun nantinya, kamu nggak akan nyesal.”

Dan setelah merenung beberapa saat, ucapan itu akhirnya keluar dari mulut teman saya tersebut. Bahwasannya besoknya dia akan bertatap muka langsung dengan cewek itu, bahwasannya dia akan nembak, bahwasannya dia tidak akan takut lagi. Saya tersenyum.

“Betul, tembak saja. Seberubah-berubahnya kamu, jikapun kamu gagal, Aitakatta yang kamu nyanyikan hanya akan berubah dari tangga nada mayor ke minor.” Saya meyakinkan sekali lagi.

“Bagaimana itu?”

“Errr… Sebentar…” Jawab saya, kemudian melongo. “Sudah lama Aitakatta saya pakai minor. Saya mode change dan transposisi dulu di otak saya.”

Leave A Comment