Ekspatriat Jepang Di Dompu Nambah

Spread the love

Rasa-rasanya, populasi ekspatriat Dai Nippon di Dompu meningkat akhir-akhir ini. Mungkin mereka malah sudah punya kampung sendiri di Lakei. Kalau ke daerah Huu, saya sering sekali nemu orang-orang ini, lagi ngerumpi, nongkrong geje di tikungan, atau ngerujak Kawista campur Kedondong di warung random.

Gampang sih, taunya. Baik cewek maupun cowoknya, pakaiannya kelewat cerah-ceria, plus kalau ngomong bahasanya nyampur sama bahasa Tarzan.

Ilegal, kalo kata De Cikmon yang bapak angkat anak-anak punk.

Seperti hari ini, waktu saya mau berteduh di gazebo pinggir jalan dari hujan yang menerpa, membasahi hati yang… Halah. Pokoknya saya bertemu mereka. Dua cewek, dengan sepeda motor Astrea Grand parkir di sampingnya. Saya memarkir Toothless, Honda Win 100 saya di samping sepeda motor mereka, kemudian ikutan berteduh. Saya mengangguk dan tersenyum ke arah mereka dan mereka membalasnya. Setelah itu diam, tidak ada pembicaraan, bahkan di antara mereka. Sesekali, salah satu cewek itu, yang menguncir ke belakang rambutnya dengan pita kuning, memainkan kunci motor di tangannya sementara temannya yang mengenakan bando menatap hampa ke depan. Entah apa yang dia pikirkan.

Oh, dan sebelum kamu menanyakan dari mana saya bisa tahu dua orang itu Dai Nippon, biar saya beri tahu kamu. Di Dompu, hanya Dai Nippon yang pake helem full face ala Moto GP untuk kemudian naik Astrea Grand keluaran tahun 80-an.

Setelah puas diam-diaman, ada kali sejaman, hujanpun berhenti. Jadi, kami bertiga keluar dari gazebo. Setelah tersenyum sambil mengangguk sebagai salam perpisahan dan dibalas oleh mereka dengan cara yang sama, saya nytater si Toothless kemudian melanjutkan perjalanan.

Tapi, tidak sampai 50 meter, dari kaca spion, saya melihat dua cewek yang di belakang saya itu nggak naik motor. Astrea Grand itu malah mereka dorong. Sepertinya motor tersebut mogok. Jadi, saya putar balik ke mereka. Saya menunjuk sepeda motor tersebut sambil menaikkan alis, masang muka heran. Mereka paham bahwa saya menanyakan kenapa dalam bahasa isyarat. Si pita kuning menatap saya kemudian berkata dengan patah-patah, “Anooo… Motorunya buruhenti jarang…”

Tuh kan, saya bilang juga apa. Dai Nippon mereka ini. Nggak mungkin nggak.

“Ah, anta tachi wa Nihonjin? Nihon go wa ii.” Tukas saya cepat. Saya punya pengalaman buruk dengan Dai Nippon yang berbicara dalam bahasa Indonesia. Lebih baik sedapat dan secepat mungkin, mereka berbicara dalam bahasa aslinya.

Mendengar jawaban saya, keduanya tersenyum gembira. Eh bukan sekedar tersenyum ding. Kalau kamu pernah ketemu Dai Nippon, apalagi yang cewek, senyum gembiranya saja itu ekspresif banget kalau nggak mau dibilang heboh. Pake “waaai” dibalas “yattaaa” terus tos-tosan dilanjut “ehehehe”. Sejenak seolah terlupakan bahwa di depan mereka yang lagi ‘senyum gembira’ itu, ada saya yang lagi cengo. Terpisah. Bukan bagian. Seolah-olah di antara kami itu ada AT Field Evangelion unit 01 yang lagi berserk.

Selepas itu, berbicaralah si bando ke saya. “Ano ne, moskashite, onii san wa Nihon jin desu ka?”

Oke, jadi si bando berpikir karena saya menggunakan bahasa Jepang, otomatis saya juga ekspatriat Dai Nippon seperti mereka. Sepertinya mereka nggak tau arti plat merah di sepeda motor saya. Plis deh, kalau kamu belah perut saya, di balik lambung saya ada tatto Garuda Pancasila dan tulisan NKRI Harga Mati di bawahnya.

“Ah iie. Watashi wa Dompu jin.” Jawab saya sambil menggeleng pelan. Dan sebelum pembicaraan ini ngalor ngidul ke mana-mana, saya menunjuk sepeda motor mereka dan bertanya, “nandeska?”

Dari cerita mereka, rupanya mereka mau ke Lakei dari lapangan pacuan kuda di lembah Kara. Mereka meminjam Astrea Grand tersebut dari temannya yang kembali ke Lakei dengan mobil. Tujuannya ingin menikmati perjalanan dengan sepeda motor, sayangnya, di tengah jalan sepeda motor tersebut mati. Mereka kemudian mendorong sepeda motor tersebut beberapa kilo dan mengisi bensin di penjual bensin eceran, tapi tetap saja sepeda motor tersebut tidak bisa hidup. Setelah teman mereka yang duluan naik mobil tidak bisa dihubungi, mereka memutuskan untuk kembali ke desa terdekat dengan mendorong sepeda motor tersebut. Hujan turun, dan mereka bertemu saya.

Saya memeriksa tangki Astrea Grand tersebut. Memang penuh. Tapi saat sepeda motor tersebut saya stater, nggak nyala. Saya cek api busi, nyala kok. Tapi didorong tetap saja nggak nyala. Jadi, saya suruh si pita kuning naik ke motornya, si bando membonceng ke motor saya, dan saya doronglah itu Astrea Grand pake satu kaki sambil naik motor. Istilahnya anak motor, digeret.

Istilah yang aneh, soalnya ini nggak ngegeret. Bukan narik. Ini mah ngedorong. Dan ngelakuin itu sambil ngeboncengin orang, sungguh bikin kaki pegel.

Dan di tengah kepegelan yang sungguh teramat sangat setelah sekitar setengah jam dorong motor dengan satu kaki, saya tiba-tiba teringat sesuatu yang penting.

Saya berhenti mendorong, meminggirkan motor saya dan motor mereka, kemudian jongkok ngeraba-raba bagian depan mesin Astrea Grand itu. Benar saja, kran bensin yang nempel di karbu itu dalam posisi off, mati. Segera saya putar ke posisi on, kemudian menyalakan rokok dan menghisapnya semenitan. Menunggu bensin turun dan masuk ke karburator. Kemudian, saya memanggil si pita kuning dan si bando, meminta salah satunya buat nyoba nyalain.

Sekali stater, Astrea Grand itu langsung nyala diiringi seruan heran keduanya. “Eeeh…!?” Seru mereka hampir bersamaan. Saya tersenyum jumawa.

“Doumo arigato, nii san!” Ujar si bando berterimakasih.

“Ah, boku wa Kunieda, to…” Katanya kemudian menengok kawannya, si pita kuning. “Miyazawa desu.” Sambung si pita kuning. Keduanya menjabat tangan saya sambil tersenyum dan saya membalasnya.

“Eettoo… Nii san wa?” Tanya si pita kuning.

Saya kaget, rupanya saya lupa memperkenalkan diri saya saat berjabat tangan. Tapi, ada yang lebih penting saat itu. Ada dilema dalam hati saya. Saya bisa menyebutkan nama saya, atau saya bisa melakukan sesuatu yang jauh lebih keren dari sekedar kenalan ngasih nama.

Kenalan, atau keren?

Mendingan keren, anjrit!

Jadi, saya tersenyum, naik ke atas Toothless, motor saya, nyetater mesinnya, dan seiring dengan derungan halus mesinnya, perlahan tapi pasti saya menaikkan telunjuk saya ke atas mengikuti pandangan saya ke langit.

“Obaa chan ga itte ita…” Saya membuka mulut.

“Torasugari no magician da. Oboetoke.” Lanjut saya sambil tancap gas.

Leave A Comment