Kisah Kakeknya Kakek Saya

Spread the love

Memang, kalau garis keturunan saya dirunut, saya nggak asli-asli amat. Saya pendatang, betul. Dari nenek pihak ibu, saya generasi ke 6. Dari kakek pihak ibu, saya generasi ke 7. Dari kakek pihak bapak, saya generasi ke 5. Semua pendatang. Hanya dari nenek pihak bapaklah yang kemungkinan besar tidak. Tapi, karena kita itu patrilineal, mengambil garis keturunan dari pihak lelaki, tetap saja nenek tidak dihitung.

Yang kehitung tentu dari bapak. Kakeknya kakek saya, buyutnya bapak saya, datang merantau dari Selangor. Adlun, nama panggilannya.

Tapi yang menentukan tanah mana yang memiliki kamu, bukanlah dari mana kamu berasal melainkan kepada yang mana kamu membaktikan diri. Pada yang mana cintamu kau tujukan, maka tanah itu akan mengakuimu sebagai anaknya.

Kakeknya kakek saya, datang dan kerjanya ngawasin tanah kesultanan. Rato Adu. Keren, ya?

Bahasa sekarangnya sih PNS.

Nah, kalau kamu banyak menghabiskan waktu dengan kakek dan nenekmu serta teman-teman mereka yang sama-sama tuanya waktu masih kecil, kamu akan banyak mendapat cerita-cerita yang asik. Kakeknya kakek saya itu, buyutnya bapak saya, masih tetap diingat oleh orang-orang tua tersebut, yang beda generasinya sudah cukup jauh sekalipun.

Suatu hari, kakeknya kakek saya ini pulang, mengambil segenggam tanah dari halaman belakang, membungkusnya dengan secarik kain, kemudian pergi lagi.

Saat itu tahun 1800-an. Persaingan serikat-serikat dagang milik Belanda, Inggris, dan Portugis dalam memperebutkan rempah-rempah membuat Nusantara berdarah. VOC, tentulah membutuhkan gudang untuk menyimpan rempah-rempah dan amunisi. Mereka butuh tempat, banyak tempat di Nusantara, untuk mendirikan pangkalan.

Kakeknya kakek saya yang ‘PNS kesultanan’ itu, pergi menghadap pembesar VOC, dan berkata lantang. “Kamu mau tanah?” Katanya.

Dan sesaat kemudian, ia melemparkan bungkusan kain yang berisi tanah dari pekarangan rumahnya itu ke lantai, tepat di depan pembesar VOC.

“Ini tanah.” Ujarnya.

Sejak saat itu, keturunannya sengsara mulu.

Leave A Comment