Sincia 2015

Spread the love

Jadi, barusan saya abis nongkrong sama Pis di bank BNI. Nemenin ronda Satpam. Pis ini anak Bada. Keluarganya adalah pengrajin Timbu. Lemang. Dan seperti orang Bada pada umumnya, apapun bahasannya, selalu ada punchline yang bikin ngakak.

“Ede si re Pis, poro na, Lebaran, Natal, Tahun Baru, lao, err… Au re bahasa Indonesia na Sincia re?” Kata saya.

Pis menjawab pendek, “Imlek.” ujarnya sembari menghisap rokok kemudian ngebul sejadi-jadinya.

“Ha, ede. Oru ura mena re, aina du ra kani di lampa kai. Pas musim hujan semua. Soa cuaca na. Jelek, nggak aman buat ngelakuin perjalanan.” Lanjut saya.

Pis menyambung. “Iyo, terutama wunga si deka Imlek re, banyak Nian yang terbang-terbang.”

Saya ngakak, dia juga.

— — —

Penjelasan buat yang nggak ngerti:

Itu permainan kata. Orang Bada sangat jenius dalam bermain kata, karena kebudayaan mereka yang campur aduk.

Nian, berarti amat, atau banget, sepert pada ucapan “banyak nian”, atau kalimat “Indah nian pemandangan ini”. Melayu lama. Nian juga adalah hewan mitos yang kelayapan saat Imlek. Orang-orang memukul tetabuhan dan nyalain petasan untuk menakuti mereka.

Saat dia berkata “banyak Nian yang terbang-terbang”, itu artinya ganda. Banyak hewan Nian yang keliaran, dan banyak BANGET yang terbang.

Yang terakhir itu, bisa diartikan banyak banget yang hilang. Apaan? Duit.

Sejak dijadikannya Imlek sebagai hari libur nasional, semuanya jadi mahal. Termasuk tiket. Jadi, nggak cocok buat bepergian atau ngapa-ngapain. Karena itulah, “banyak Nian yang terbang-terbang”.

Leave A Comment