Malam Tahun Baru

Spread the love

Tahun baru di Indonesia itu suram, menurut saya. Selalu saat musim hujan, pas pertengahannya pula. Seperti malam ini. Mendung, sejam dua jam lagi pasti hujan.

Nongkrong depan rumah saja malam ini, pikir saya. Rumah saya di Dompu, tepat di depan gereja. Karena gerejanya baru dirombak, dua menara lonceng yang baru dibangun itu masih berhias lampu natal sisa kemarin. Lumayanlah, ada kelap-kelip lampu buat dilihat sambil nongkrong.

Btw, mestinya ini gereja pas mau rehab, konsultasi dulu ke saya. Kalau kayak gini, gua Marianya kan nggak keliatan dari rumah saya. Gimana, sih ah… Gini-gini saya kan pernah kerja sambilan jadi kuli bangunan.

Maka, saya bikin kopi, yang karena toples gulanya nggak bisa saya temukan, jadilah kopi pahit yang saya bikin. Entah di mana ibu saya -yang pergi ke Mataram dari Natal kemarin bareng adik angkat saya- naruh itu toples gula. Eh, tapi kopi pahit masih oke bagi saya. Enak, malah. Jadi, saya nongkrong di atas tembok rumah, ngisep rokok sambil ngopi. Kurang posisi wuenak apa hidup ini…

Mendadak, dari arah parkiran gereja yang penuh dengan orang nongkrong, ada suara hape yang mengalunkan lagu Gingham Check.

“Walaupun aku sangat, menyukai dirimu, ku slalu menyembunyi-kannya~”

Kopi yang saya minum langsung berubah jadi cairan empedu…

Leave A Comment