Ditinggal Orang Serumah

Spread the love

“Loa Mom ma lao natal dan tahun baruan aka Mataram?” Katanya. Kamu tidak perlu jadi ahli bahasa untuk mengetahui arti kalimat itu. Mahluk yang mengucapkannya ingin pergi ke luar daerah, ke Mataram, Lombok, di akhir tahun.

Ada mahluk aneh yang tinggal di rumah saya. Mahluk ini dikenal dengan nama ibu.

Jika kamu bisa membuat alat yang mematerialisasi dan memadatkan rasa yang disebut cinta dan kasih sayang, kamu akan melihat alat tersebut menghasilkan mahluk perempuan yang berusia jauh lebih tua dan mengenakan daster yang disebut ibu.

Kamu bisa memberikan permata sebagai hadiah ke wanita yang kamu sayangi, seperti yang pernah saya lakukan. Tapi, saat saya memberikan ibu saya segelas air, ia akan mengucapkan terima kasih setulus hati, dengan kebahagiaan yang tidak terhingga seolah-olah yang kamu berikan adalah sebongkah emas.

Tidak percaya? Berikanlah wanita lain cincin, maka ia akan berterima kasih, tersenyum, dan mengenakannya saat ia keluar rumah.

Berikanlah ibumu cincin, yang jauh lebih murah, maka ia akan melakukan hal serupa. Ditambah, ia tidak akan melepaskan cincin itu dari tangannya bahkan saat tidur sekalipun, kemudian membanggakan ke semua kenalannya bahwa cincin yang dikenakannya adalah hadiah dari anaknya.

Cinta seorang ibu tidak memandang harga, bentuk, dan rupa. Masih adakah mahluk serupa di rumah kalian? Di saya, masih.

Dan mahluk ini, ibu saya, ingin ke Mataram. Akhir tahun, saat bensin baru saja naik. Ide gila? Hei, saya terbiasa dengan ide-ide ibu saya. Toh ia adalah wanita yang cukup gila untuk meninggalkan kemewahan dan karir yang sudah disiapkan keluarganya di Jakarta, untuk kemudian menjadi ibu rumah tangga yang menikahi seorang PNS. Kalau kamu mau lihat enci-enci peyot joget dangdut di malam terakhir bulan Ramadhan di rumahnya, bersama keluarganya, kamu bisa melihatnya di rumah saya. Seperti salah seorang temen saya yang cukup sial dan langsung culture shock.

Oke, jadi di tengah kondisi ekonomi yang masih tidak stabil, ibu saya mau jalan-jalan ke Mataram, Lombok. Menghabiskan tahun ini dengan adik perempuan saya yang tinggal di sana, mungkin. Sesuatu yang perlu dipikirkan masak-masak oleh saya, bukan? Sesuatu yang perlu dipikirkan berjam-jam, bukan? Itu yang kalian pikirkan saat ini, bukan?

“Oh, lao ni Mom. Pergilah,” Jawab saya pada ibu saya sepersepuluh detik kemudian, kemudian menyambung, “Saya ada uang untuk itu.”

Maka begitulah, saya melambaikan tangan ke ibu, bapak, dan adik angkat saya yang berangkat ke Mataram sampai tahun depan. Saya tidak ikut, jaga rumah. Duit saya langsung ludes, sampai tahun depan sendirian, sampai tahun depan pun Giiinghaaam Cheeeck~

Leave A Comment